Logo Bloomberg Technoz

Pangkalnya adalah dari pernyataan Waller pagi tadi waktu Jakarta. Ia mengatakan bahwa suku bunga sebaiknya diturunkan bulan ini untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

“Dengan inflasi yang mendekati target dan risiko kenaikan inflasi yang terbatas, kita tidak perlu menunggu pasar tenaga kerja memburuk sebelum menurunkan suku bunga acuan,” ujar Waller, dilansir dari Bloomberg News. “Menurut saya, masuk akal jika FOMC memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam dua pekan mendatang.”

Pernyataan itu memang tak serta merta mengubah ekspektasi pasar untuk keputusan FOMC pada 30 Juli nanti. Pertaruhan di pasar swap masih memperkirakan, Fed rate akan ditahan di level saat ini dengan probabilitas mencapai 97%.

Namun, untuk September, ekspektasi pasar yang sempat menurun kini mekar lagi karena pernyataan Waller. Pasar kini bertaruh ada peluang sebesar 56,3% penurunan bunga acuan AS pada pertemuan 17 September nanti.

Sentimen itu meluruhkan yield US Treasury, surat utang pemerintah AS. Melansir Bloomberg, semua tenor turun imbal hasilnya terutama tenor 30Y yang terpangkas 2,7 bps siang ini.

Sedangkan tenor 10Y turun 2,4 bps. UST-2Y yang sensitif terhadap kebijakan bunga acuan, hanya bergerak turun sedikit yield-nya 0,9 bps ke level 3,858%.

Imbas penurunan yield Treasury, selisih imbal hasil investasi SUN dengan surat utang AS melebar jadi 213 bps. Dengan rupiah yang juga bergerak stabil menyusul kembali lemahnya indeks dolar, pamor SUN jadi kembali menarik.

Terlebih, ada potensi Bank Indonesia akan melanjutkan penurunan bunga acuan BI rate hingga ke level 4,5% sampai akhir tahun nanti.

Pada perdagangan Jumat ini, rupiah spot masih bertahan menguat 0,16% di level Rp16.305/US$, menjadi yang terkuat kedua di Asia di tengah tren kenaikan nilai mata uang regional berkat sentimen Waller.

Adapun di pasar saham, reli juga berlanjut di mana IHSG masih menguat 1,27% jelang penutupan sesi pertama perdagangan hari ini.

(rui)

No more pages