“Kalau itu untuk kepentingan AS sendiri untuk proteksi produk dalam negerinya, kalau memang mereka butuh [tembaga dari Indonesia], pasti tarif tersebut akan dicabut khusus untuk komoditas tertentu yang mereka butuhkan,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (17/7/2025).
Bagaimanapun, Rizal menjelaskan sebenarnya yang diinginkan Trump adalah keseimbangan perdagangan bilateral dengan Indonesia, karena saat ini AS merasa neraca perdagangannya dengan RI terus defisit. Indonesia banyak mengekspor produk pertekstilan, elektronik, kulit, dan lainnya ke AS.
Guna mencari keseimbangan tersebut, lanjut Rizal, Trump menginginkan Indonesia memberikan akses untuk mineral kritis Indonesia terutama tembaga dan mineral tanah jarang lainnya.
Di sisi lain, karena Indonesia juga telah membangun smelter tembaga di dalam negeri, Rizal menilai kemungkinan besar produk smelter tersebut lah yang nantinya yang akan diekspor ke AS.
Apalagi, pemerintah telah melarang ekspor tembaga dalam bentuk konsentrat, sedangkan mineral tanah jarang masih sangat sedikit produksinya di Indonesia.
“[Hal] yang perlu diperhatikan nanti adalah mengenai kesepakatan tarif saja, apakah Indonesia akan mengenakan tarif ekspor dan bea lainnya untuk produk tersebut. Ini akan mengikuti kesepakatan yang akan dibuat bersama Indonesia-AS nantinya,” jelas Rizal.
Trump secara terbuka telah meminta akses penuh terhadap produk tambang unggulan Indonesia seperti tembaga hingga produk mineral kritis seperti tanah jarang.
Hal itu diklaimnya sebagai bentuk kesepakatan dalam negosiasi tarif perdagangan karena RI akan dikenakan tarif 19%, sedangkan Negeri Paman Sam akan memiliki akses penuh terhadap pasar Indonesia tanpa tarif.
“Kami memiliki akses penuh ke Indonesia, semuanya. Indonesia sangat kuat dalam tembaga berkualitas sangat tinggi yang akan kami gunakan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, yang disiarkan dalam akun Youtube, Rabu (16/7/2025).
“Indonesia memiliki beberapa produk hebat dan mereka juga memiliki beberapa tanah jarang yang sangat berharga dan berbagai material lainnya,” lanjutnya.
Trump menegaskan akses penuh yang diberikan oleh Indonesia akan memudahkan AS untuk memperoleh tembaga demi keperluan industri.
Dia juga mengungkapkan kesepakatan itu sudah dibicarakan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menyitir data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengekspor bijih tembaga dan konsentrat ke AS hanya sebanyak 22,838.63 ton dengan nilai US$1,517 pada 2024. Namun, data dengan kode HS 26030000 itu tidak ditemukan pada 2025.
(mfd/wdh)





























