Dia berpendapat, penurunan ini sudah harus dilaksanakan karena banyak negara tetangga yang sudah menurunkan bunga seperti India dan Malaysia, serta urgensi bergeser pada pertumbuhan ekonomi, dari stabilitas rupiah.
Pada pembukaan pasar hari ini, rupiah melemah di kisaran Rp16.275/US$, pelemahan terkecil di Asia ketika sebagian valuta yang lain bergerak menguat.
Selama Juli, rupiah membukukan pelemahan 0,23%, terkecil kedua setelah rupee, meski masih kalah dengan dolar Taiwan. Sedangkan dibanding posisi terakhir ketika RDG Juni digelar, rupiah masih mencetak penguatan 0,15%, terbaik keempat di Asia.
Konsensus pasar sejauh ini masih menghasilkan median 5,5% yang berarti mayoritas pelaku pasar memperkirakan BI rate akan ditahan lagi oleh Bank Indonesia.
Namun, konsensus itu tidak bulat. Sebanyak 15 ekonom dari 33 yang disurvei memperkirakan BI rate berpeluang turun 25 bps hari ini ke level 5,25%.
Di sisi mata uang, Fakhrul berpandangan bahwa untuk memperkuat rupiah, Indonesia harus memiliki ekspektasi perbaikan ekonomi yang bersumber dari dorongan moneter dan fiskal. Setelah BI memangkas suku bunga dan belanja pemerintah meningkat, kata Fakhrul, maka arus modal akan kembali dan memperkuat rupiah. Fakhrul sendiri memperkirakan bahwa rupiah bisa menguat sampai ke level Rp15.500 per dolar AS pada tahun ini.
Terkait dengan pasar keuangan, Trimegah Sekuritas memandang perjanjian dagang, penurunan tingkat suku bunga BI, serta perbaikan ekonomi pada paruh kedua 2025, menyebabkan IHSG bisa mencapai 7750 pada akhir tahun ini. Menurutnya, sektor unggulan pada paruh kedua tahun ini adalah sektor terkait logam dan konsumen.
Tarif Lebih Rendah
Kesepakatan tarif sebesar 19% untuk Indonesia membuat posisi Tanah Air lebih kompetitif dibandingkan dengan Malaysia sebesar 25%, Vietnam sebesar 20% dan 40% untuk transhipment serta Thailand sebesar 36%.
Menurut dia, hal tersebut akan menjadi momentum untuk mengembangkan industri kawasan industri dan menarik investasi ke Indonesia.
“Dengan adanya selisih tarif antar Indonesia dan negara lain, seharusnya ada investasi yang bisa pindah ke Indonesia sebesar US$200-300 juta dalam satu sampai dua tahun ke depan,” ujarnya.
Presiden AS Donald Trump memastikan tarif impor untuk barang dari Indonesia sebesar 19%, alias lebih rendah dari pengumuman sebelumnya sebesar 32%.
Tidak terpisahkan dari komitmen tersebut, Trump juga menyebut Indonesia terikat perjanjian untuk membeli produk energi AS hingga US$15 miliar dan komoditas lainnya.
"Produk pertanian Amerika senilai US$4,5 miliar, dan 50 Jet Boeing, banyak di antaranya adalah Boeing 777," ujar Trump.
Melalui pengumuman tersebut, Trump menyatakan AS akan memiliki akses penuh terhadap pasar Indonesia tanpa tarif.
“Kami tidak akan membayar tarif. Jadi mereka memberi kami akses ke Indonesia, yang tidak pernah kami miliki. Itu mungkin bagian terbesar dari kesepakatan itu. Bagian lainnya adalah mereka akan membayar 19%, kami tidak akan membayar apa pun,” ujar Donald Trump
(lav)





























