Trump berdalih bahwa tarif tersebut bertujuan membawa kembali lapangan kerja manufaktur ke AS. Namun, menurut Bailey, kebijakan itu justru bisa menjadi bumerang. “Kenaikan tarif berisiko memecah belah ekonomi global, yang pada akhirnya mengurangi aktivitas ekonomi,” tegasnya.
“Penting untuk diingat bahwa tantangan utama kita adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi global: membesarkan kue ekonomi demi mendukung standar hidup masyarakat yang kita layani. Sesederhana itu.”
Bailey, yang baru-baru ini juga menjabat sebagai ketua Financial Stability Board (FSB), menekankan bahwa akar masalah global terletak pada dua negara utama: China dan AS, yang menyumbang "hampir 40% dari ketidakseimbangan neraca transaksi berjalan dunia."
AS mencatat defisit transaksi berjalan karena lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor, serta defisit anggaran yang ditopang oleh arus modal masuk berkat status dolar sebagai mata uang cadangan global. Sebaliknya, China memiliki surplus perdagangan dan kelebihan tabungan domestik yang disebabkan lemahnya sistem jaminan sosial, sehingga dana tersebut diinvestasikan ke luar negeri.
Bailey juga menilai perang dagang AS tidak selaras secara ekonomi. “AS perlu menjelaskan bagaimana mereka menganggap ketidakseimbangan internalnya bisa berkelanjutan, sementara ketidakseimbangan eksternalnya tidak,” ujarnya. “Dan China perlu menjelaskan bagaimana mereka akan menangani lemahnya konsumsi domestik secara terus-menerus.”
Ia menyarankan pendekatan yang lebih konstruktif melalui lembaga multilateral seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk menyeimbangkan kembali sistem perdagangan dan keuangan. Institusi global yang lebih kuat dan saling bersinergi, menurutnya, dapat mempercepat proses penyesuaian tersebut.
Di luar isu perdagangan, Bailey juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk inovasi dalam sistem pembayaran oleh sektor perbankan, sekaligus menyampaikan keraguannya terhadap masa depan stablecoin dan mata uang digital bank sentral (CBDC) Inggris.
Gubernur Bank Sentral Inggris itu telah menunjukkan sikap lebih skeptis terhadap kebutuhan akan mata uang digital bank sentral dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyatakan bahwa dirinya belum yakin bahwa “langkah alami berikutnya adalah menciptakan bentuk uang baru, alih-alih menerapkan teknologi digital ke dalam sistem pembayaran ritel dan rekening bank.”
Ia juga kembali menyuarakan kehati-hatiannya terhadap stablecoin, meski antusiasme terhadap aset kripto itu meningkat setelah Senat AS meloloskan undang-undang penting yang bertujuan memberikan kerangka hukum bagi teknologi ini.
Stablecoin umumnya didukung oleh aset seperti dolar AS dan dirancang untuk menjaga nilai tetap stabil — berbeda dengan volatilitas harga yang tinggi seperti yang terlihat pada Bitcoin. “Stablecoin mungkin punya peran di masa depan, tapi saya tidak melihatnya sebagai pengganti uang bank komersial,” ujar Bailey.
(bbn)


























