Green Coke memiliki kegunaan yang sangat luas, terutama sebagai bahan baku calcined coke yang digunakan dalam industri aluminium sebagai bahan pengurai, serta sebagai reduktor pada proses peleburan timah, bahan penambah kadar karbon pada industri logam atau baja, hingga sebagai bahan bakar di industri semen dan pembangkit listrik.
Yang menarik, Green Coke juga mulai dimanfaatkan untuk pembuatan anoda grafit artifisial—salah satu komponen penting dalam baterai kendaraan listrik. Hal ini menjadikan Green Coke sebagai material strategis dalam pengembangan ekosistem kendaraan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Muttaqin menyebutkan bahwa Green Coke memiliki potensi sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan bagi industri. Ia menjelaskan bahwa kandungan sulfur dan nitrogen yang lebih rendah pada Green Coke membuat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan saat pembakaran menjadi lebih sedikit.
Green Coke yang dihasilkan Kilang Dumai memiliki spesifikasi unggulan, di antaranya kadar sulfur rendah sebesar 0,5% (low sulphur), kandungan abu (ash content) hanya 0,1%, serta nilai kalori tinggi di kisaran 7500–8500 Cal/kg.
"Dengan kandungan sulfur yang lebih rendah berkontribusi pada kualitas udara yang lebih baik dan dampak lingkungan yang lebih rendah," imbuh Muttaqin.
(tim)






























