Sejak berdiri pada 2017, Akseleran memposisikan diri sebagai solusi atas kesenjangan pembiayaan (funding gap) UMKM yang disebut mencapai Rp2.000 triliun/tahun. Produk pinjaman yang ditawarkan antara lain invoice financing, PO financing, dan inventory financing.
Pada dokumen permohonan penawaran umum perdana saham (IPO) tahun 2023 Akseleran mengklaim memiliki tingkat TKB90 99,59% dengan outstanding pinjaman mencapai sekitar Rp640 miliar.
TKB90 menunjukkan tingkat keberhasilan pinjaman yang tidak terlambat lebih dari 90 hari dibandingkan dengan outstanding pinjaman. Semakin tinggi angka TKB90 menggambarkan kualitas kredit di sebuah platform Fintech P2P Lending.
Namun, kini tingkat keberhasilan bayar 90 hari atau TKB90 Akseleran hanya 45,11%, mengutip data di situs resmi perusahaan. TKB90 45,11% menunjukkan tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 mencapai 54,89%—setengah lebih dari total pinjaman yang disalurkan Akseleran.
Pada bagian terpisah, Akseleran tengah menghadapi tuduhan gagal bayar hingga miliaran rupiah ke sejumlah pemberi pinjamannya (lender), dimana terdapat enam lender yang diwakili oleh kantor hukum Badranaya Partnership melaporkan kerugian sebesar Rp1,67 miliar.
Salah satu lender, Anita Carolina, bercerita melalui akun TikTok @anitacarolina612, hanya menerima pengembalian sekitar Rp300 ribu pada akhir April lalu atau hanya 0,02% dari total dana yang disalurkan. tingkat imbal hasil yang diterima jauh dari ekspektasi awal, yakni hanya sekitar 6,97%/tahun, setara instrumen pasar uang.
“Awalnya saya percaya karena disebutkan pendanaan dijamin asuransi 99%. Tapi ternyata, dana saya tidak di-cover,” ujarnya lewat akun TikTok @anitacarolina612. Anita Carolina, salah satu lender Akseleran pun berharap ada itikad baik dari borrower untuk mengembalikan dana investasi yang macet, dalam pernyataannya kepada Bloomberg Technoz.
Di tengah maraknya kasus gagal bayar pada platform Fintech P2P Lending, termasuk Akseleran, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, beri pesan agar pihak terkait segera menyelesaikan pemenuhan hak lender atau investor.
Laporan gagal bayar Akseleran semakin pelik usai beberapa lender menagih janji dari seorang influencer, Felicia Putri Tjiasaka, karena di beberapa kesempatan diketahui memberi saran produk investasi di platform pembiayaan sektor produktif. Felicia menyebut Akseleran karena diklaim saat itu telah di-backup oleh asuransi, meski dalam video Felicia menyatakan konten TikTok-nya bukan merupakan rekomendasi.
Felicia tegaskan kasus gagal bayar Akseleran bukan tanggung jawabnya, namun dia berinisiatif melakukan pendampingan dan upaya tindak lanjut dengan menyediakan formulir khusus bagi lender. Felicia menutup videonya dengan refleksi pribadi, dengan menyatakan bahwa, "semoga kita bisa belajar untuk be responsible untuk setiap keputusan yang kita pilih, dan buat sendiri dalam segala aspek kehidupan."
Pihak OJK belum memberi respons baru atas komentar lender untuk meminta tanggung jawab Felicia, yang diketahui sempat endorse P2P Lending Akseleran. Pada bulan Maret lalu Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi hanya sempat menyampaikan bahwa pihaknya "sedang merancang skema pengaturan dan pengawasan atas perilaku finfluencer dalam meningkatkan kehati-hatian."
(wep)































