Logo Bloomberg Technoz

RI Mau Impor Nikel dari Solomon Mulai Juni, Harga Lebih Mahal

Mis Fransiska Dewi
03 June 2025 09:10

Sampel bijih nikel./Bloomberg-Carla Gottgens
Sampel bijih nikel./Bloomberg-Carla Gottgens

Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan rencana Indonesia mengimpor bijih nikel dari Kepulauan Solomon dan New Caledonia mulai bulan ini berpotensi lebih menguras biaya ketimbang impor dari Filipina.

Anggota Dewan Penasihat APNI Djoko Widajatno mengatakan manuver tersebut dilakukan penambang sebagai antisipasi atas rencana Filipina melarang ekspor mineral bijih. Filipina selama ini menjadi salah satu pemasok saprolit bagi smelter nikel pirometalurgi di Tanah Air.

“Kebutuhan [bijih nikel] kita kan 300 juta ton, [sesuai] dengan rencana produksi RKAB. Akhirnya, yang 96 juta ton itu kita harus cari. Mau tidak mau, kita harus ke Solomon. Jadi harganya akan mahal,” ujarnya ditemui di sela ESG Forum 2025, dikutip Selasa (3/6/2025).


“[Dari] New Caledonia [juga], tetapi yang paling memungkinkan kan dari Solomon. Nah, yang New Caledonia ini ada masalah.”

Bijih nikel./Bloomberg-Andrey Rudakov

Menurut Djoko, kadar nikel dari New Caledonia masih belum memenuhi spesifikasi untuk diolah smelter di Indonesia. Nikel dari negara tersebut masih harus melalui proses pembauran atau blending sebelum bisa diproses smelter.