Logo Bloomberg Technoz

Hapag-Lloyd AG, perusahaan pelayaran peti kemas terbesar kelima di dunia, mengaku mengalami “lonjakan besar” dalam volume pengiriman pekan ini. Volume pengiriman naik lebih dari 50% dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, terutama dari China ke AS, ungkap CEO Rolf Habben Jansen dalam wawancara dengan Bloomberg Television.

Pergerakan saham perusahaan pelayaran. (Sumber: Bloomberg)

CEO CMA CGM SA, Rodolphe Saadé, menyebut kesepakatan dagang ini sebagai “kabar baik” saat berbicara di hadapan Senat Prancis pada Senin lalu. Ia mengungkapkan bahwa sejak dimulainya perang dagang, perusahaannya kehilangan 50% volume pengiriman ke AS.

“Lonjakan pengiriman kemungkinan akan kembali terjadi karena eksportir dan importir di Tiongkok dan AS mencoba memaksimalkan pemangkasan tarif selama jeda 90 hari ini,” kata Kenneth Loh dari Bloomberg Intelligence.

Lonjakan permintaan yang tertahan ini mendorong kenaikan tarif pengiriman, yang sebelumnya terus merosot sejak awal tahun. Kenaikan ini pun memberikan suntikan pendapatan bagi perusahaan pelayaran.

Permintaan pada musim puncak diperkirakan akan meningkat lebih tinggi lagi karena akhir periode pengurangan tarif selama 90 hari ini bertepatan dengan masa tersibuk industri pelayaran pada pertengahan Agustus. China sendiri menyumbang sekitar 40% dari total impor peti kemas ke AS, menurut catatan analis Citigroup Inc, termasuk Kaseedit Choonnawat.

Biaya pengiriman peti kemas 40 kaki dari Shanghai ke Los Angeles naik 16% dari minggu sebelumnya menjadi US$3.136—kenaikan persentase terbesar sejak Desember. Sementara rute Shanghai ke New York melonjak 19% menjadi US$4.350, menurut Drewry World Container Index pada Kamis.

WCI Freight Rate. (Sumber: Bloomberg)

Ledakan pengiriman barang dari China ini juga berisiko menimbulkan kemacetan di pelabuhan, mirip dengan yang terjadi saat pandemi Covid-19, menurut catatan analis HSBC Holdings Plc, termasuk Parash Jain.

Pelabuhan-pelabuhan Tiongkok seperti China Merchants Port Holdings Co, Cosco Shipping Ports Ltd, dan Shanghai International Port Group Co berpeluang meningkatkan pangsa pasar selama periode ini. Hal ini bisa memperkecil kesenjangan biaya dengan pelabuhan ekspor pesaing di jalur perdagangan lainnya, kata analis Bloomberg Intelligence Denise Wong. “Gencatan ini juga memberi waktu lebih bagi eksportir China untuk mencari jalan alternatif, yang berpotensi mempertahankan volume pengiriman di pelabuhan-pelabuhan mereka.”

Risiko Kelebihan Pasokan

Meski lonjakan pengiriman dapat menaikkan proyeksi pendapatan, analis Kepler Cheuvreux, Axel Styrman, menilai hal ini belum tentu berdampak besar terhadap laba kuartal kedua perusahaan pelayaran.

“Kami tetap berhati-hati terhadap prospek jangka panjang industri pelayaran peti kemas, karena kami memperkirakan akan terjadi kelebihan pasokan yang signifikan,” tulis analis Deutsche Bank AG, Andy Chu, dalam catatan risetnya. Ia menaikkan rekomendasi saham Maersk dan Hapag-Lloyd dari ‘jual’ menjadi ‘tahan’. “Kami mengakui bahwa saham pelayaran peti kemas bersifat siklikal dan dipengaruhi oleh momentum. Dalam waktu dekat, permintaan di jalur perdagangan China-AS diperkirakan akan pulih seiring dengan pemulihan stok barang.”

Meski demikian, rebound saat ini bisa jadi hanya bersifat sementara. “Outlook tarif untuk paruh kedua 2025 masih lemah, dengan proyeksi penurunan permintaan yang signifikan—terlepas dari apakah tarif kembali naik setelah masa jeda berakhir. Selain itu, potensi berakhirnya pengalihan rute dari Laut Merah ke Tanjung Harapan bisa memperparah koreksi penurunan,” ujar Styrman.

(bbn)

No more pages