Logo Bloomberg Technoz

Guna mendorong investasi, pemerintah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Perluasan Lapangan Kerja, menyederhanakan perizinan melalui Instruksi Presiden tentang Deregulasi, Penyelesaian revisi Peraturan Presiden Bidang Usaha Penanaman Modal (BUPM), dan mengimplementasikan kredit investasi untuk industri padat karya, optimalisasi belanja modal atau capital expenditure (Capex) Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan optimalisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sekadar catatan, pemerintah menyediakan anggaran subsidi bunga/margin untuk penyaluran skema kredit investasi padat karya mencapai target penyaluran sebesar Rp20 triliun pada 2025.

"Kami berkomitmen terus memperbaiki iklim investasi melalui deregulasi dan penyederhanaan perizinan. Implementasi kredit investasi untuk industri padat karya juga kami dorong untuk menciptakan lapangan kerja baru," ujarnya.

Airlangga mengatakan akselerasi belanja pemerintah menjadi fokus utama dengan target penyerapan bisa lebih tinggi dari siklus triwulanannya, untuk mendorong efek pengganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan. 

Pemerintah juga terus melakukan mitigasi risiko terkait kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan perluasan pasar ekspor melalui negosiasi tarif dengan AS, serta penyelesaian negosiasi kerja sama ekonomi komprehensif dengan Uni Eropa (UE) atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

"Bergabungnya Indonesia dengan Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa [BRICS] serta aksesi ke Organisation for Economic Co-operation and Development [OECD] menunjukkan komitmen kita untuk memperkuat posisi di kancah ekonomi global. Ini akan mendukung transformasi ekonomi jangka panjang menuju Indonesia Maju," ujarnya. 

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tumbuh melambat 4,87% dibandingkan kuartal I-2024 atau secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka pertumbuhan ini berada di bawah pertumbuhan kuartal I-2024 di level 5,1% (yoy). 

"Jika dibandingkan kuartal IV 2024 atau kuartalan, ekonomi Indonesia terkontraksi 0,98%," ujar Amalia.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I umumnya memang relatif lebih rendah dibandingkan kuartal IV tahun sebelumnya.

Amalia menjelaskan komponen pengeluaran yang memberi kontribusi terbesar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga, yakni memberi distribusi 54,53% dan tumbuh 4,89%. "Konsumsi rumah tangga ditopang liburan dan momentum Ramadan serta Lebaran," tutur dia.

Disusul, komponen PMTB memberi distribusi 28,03%, meski tumbuh melambat 2,12%.

Komponen pengeluaran yang tumbuh paling tinggi adalah ekspor, yakni mencapai 6,78% dengan distribusi 22,3%. Hal ini dipicu oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas dan kunjungan wisatawan. Sementara itu, kinerja impor juga meningkat 3,96%, dan memberi distribusi -19,74% terhadap PDB.

Selanjutnya, konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tercatat tumbuh 3,07% dan memberi distribusi 1,39%.

Terakhir, konsumsi pemerintah hanya memberi distribusi 5,88% dan pertumbuhannya kontraksi 1,38%, terutama secara year-on-year (yoy) atau tahunan, yakni kuartal I-2025 dibandingkan kuartal I-2024.

(dov/ros)

No more pages