Logo Bloomberg Technoz

Ada Sinyal Perlambatan, Tapi Ekonomi RI Belum Kehilangan Arah

Redaksi
15 June 2026 06:32

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Bloomberg)
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sebelum euforia penguatan rupiah pada sesi perdagangan Jumat (12/6/2026) yang terapresiasi ke Rp17.910/US$, sejumlah indikator ekonomi domestik mengirim sinyal perlambatan melalui lemahnya keyakinan konsumen dan meningkatnya biaya hidup. Namun, di sisi lain, aktivitas sektor riil justru menunjukkan tanda perbaikan setelah sempat berada di zona kontraksi sebelumnya. 

Salah satu indikator yang dikhawatirkan dapat menyebabkan erosi daya beli adalah angka inflasi yang melonjak menjadi 3,08%. Kelompok makanan dan minuman mencatat inflasi 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi yang melonjak 10,35%.

Lonjakan inflasi tersebut menunjukkan adanya tekanan biaya hidup. Kali ini, tekanan biaya hidup tak hanya menghantam kelompok berpendapatan rendah, kelas menengah juga menghadapi tekanan yang sama.


Tekanan terhadap kelas menengah dipicu oleh sejumlah kenaikan harga energi non-subsidi seperti baru-baru ini Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dan Elpiji non-subsidi yang telah naik pada kuartal I-2026. 

Kenaikan harga yang semakin merata tersebut juga tampaknya mulai memengaruhi psikologi konsumen. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 120,9 pada Mei 2026 dari 123,0 pada April, sekaligus menjadi level terendah sejak September tahun lalu.