Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan daruratnya menyebut wilayah terdampak gempa di Sagaing dan Mandalay masih berada dalam zona konflik dan sulit diakses. WHO menyatakan membutuhkan dana sebesar 8 juta dolar AS dalam 30 hari ke depan untuk menyediakan perawatan darurat, mencegah wabah penyakit, dan memulihkan layanan kesehatan di Myanmar.
Sementara itu, situs berita Myanmar Now melaporkan bahwa krematorium di Mandalay kewalahan menangani banyaknya jenazah. Junta militer juga dilaporkan melarang jurnalis asing memasuki wilayah terdampak, sehingga sulit mendapatkan gambaran akurat mengenai kondisi di lapangan.
Di Mandalay, banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, termasuk di sebuah hotel besar. "Beberapa dari mereka mungkin masih hidup, tetapi tidak cukup alat berat untuk mengevakuasi mereka," kata Myo Min Soe, warga Chanmyathazi, Mandalay. Tim penyelamat internasional telah tiba di Mandalay, tetapi tidak bisa menyelamatkan semua korban karena keterbatasan peralatan.
Thailand juga merasakan dampak gempa ini, dengan sedikitnya 18 orang tewas akibat runtuhnya bangunan yang sedang dibangun. Tim penyelamat masih berusaha mencari puluhan orang yang hilang. Meski demikian, kantor-kantor pemerintahan dan pasar keuangan di Bangkok kembali beroperasi, dan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra menyatakan situasi di negaranya telah terkendali.
Namun, pasar saham Thailand tetap terdampak. Indeks utama di bursa Thailand turun hingga 1,7% pada Senin, dengan saham properti dan keuangan menjadi sektor yang paling tertekan.
Di Myanmar, model pemetaan dampak gempa oleh United States Geological Survey (USGS) memperkirakan jumlah korban jiwa bisa mencapai lebih dari 10.000 orang. Kerugian ekonomi akibat bencana ini juga diperkirakan melebihi Produk Domestik Bruto (PDB) Myanmar.
Sebelumnya, Myanmar pernah mengalami bencana besar pada 2008 ketika Siklon Nargis menewaskan sekitar 138.000 orang. Kini, dengan lebih dari 3,5 juta orang telah mengungsi akibat konflik, UNHCR mencatat sekitar 1,6 juta di antaranya tinggal di wilayah yang terdampak gempa.
Gempa dan serangkaian gempa susulan juga merusak jaringan listrik dan infrastruktur penting lainnya, menyebabkan pemadaman listrik yang meluas. Gangguan pada jaringan telekomunikasi dan internet semakin menyulitkan upaya penyelamatan.
Banyak jenazah masih tertimbun di reruntuhan bangunan, dan bau menyengat dari kamar mayat di Rumah Sakit Umum Mandalay membuat warga harus mengenakan masker saat melintas. “Bau menyengat ini bisa menyebar ke seluruh kota besok karena banyaknya jenazah yang belum dievakuasi, apalagi suhu di sini sangat panas,” kata Hteik Tin Aung, warga Mandalay.
Sejumlah negara, termasuk China, Israel, Amerika Serikat, dan Inggris, telah mengirimkan bantuan ke Myanmar. Pemerintahan bayangan National Unity Government (NUG) yang terdiri dari sekutu Aung San Suu Kyi mengumumkan bahwa pasukan gerilya People’s Defence Force akan menghentikan serangan militer selama dua minggu, kecuali untuk pertahanan diri. NUG juga meminta lembaga kemanusiaan dan organisasi internasional untuk mempercepat pengiriman bantuan.
Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) menggelar pertemuan darurat secara virtual dan menyerukan terciptanya "lingkungan yang aman dan kondusif" untuk mendukung penyaluran bantuan. ASEAN menekankan bahwa bantuan harus disalurkan secara cepat dan efektif, tanpa diskriminasi.
Sejumlah negara ASEAN telah mengirim tim bantuan ke Myanmar, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pada Minggu lalu, maskapai Malaysia Airlines mengirimkan bantuan berupa perlengkapan kebersihan dan terpal, sementara dua pesawat militer Bangladesh membawa bantuan pangan seperti beras dan kacang-kacangan.
Dalam pertemuan khusus terkait pemulihan pasca-gempa, Kepala Junta Min Aung Hlaing meminta bantuan internasional berupa material konstruksi untuk membangun kembali infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan gedung-gedung pemerintah yang rusak.
Sementara itu, NUG mengalokasikan dana darurat sebesar 1 juta dolar AS untuk operasi penyelamatan dan bantuan medis di seluruh Myanmar, dengan prioritas pada wilayah yang berada di bawah kendali NUG.
“This is not just a disaster; it is a complex humanitarian crisis layered over existing vulnerabilities,” kata Alexander Matheou, Direktur Regional Asia Pasifik untuk Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).
Palang Merah telah meluncurkan penggalangan dana darurat sebesar lebih dari 100 juta dolar AS untuk membantu 100.000 orang dalam proses pemulihan selama 24 bulan ke depan.
Badan PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (OCHA) juga mengalokasikan dana awal sebesar 5 juta dolar AS untuk bantuan di Myanmar dan telah menggerakkan upaya tanggap darurat. Namun, OCHA menegaskan bahwa gangguan terhadap infrastruktur dan jaringan komunikasi terus menghambat operasi penyelamatan.
“Ada banyak bangunan runtuh di semua wilayah Mandalay,” ujar Myo Min Soe. “Kurangnya peralatan akan menyebabkan lebih banyak korban jiwa, sebab tim penyelamat setempat memiliki keterbatasan sumber daya.”
(bbn)



























