Trump kembali mengusuh kebijakan tarif tinggi terhadap barang impor, terutama dari China dan Uni Eropa. Trump juga memiliki rencana ambisius, dengan menghidupkan kembali rencana pembelian Greenland, sebuah ide yang pernah diajukan pada masa jabatan pertamanya namun ditolak keras oleh pemerintah Denmark. Trump juga mengungkap niatnya untuk mengakuisisi pengelolaan Terusan Panama, yang mendapat protes keras dari presiden negara tersebut.
Selain itu, kabinet Trump dipenuhi oleh tokoh-tokoh kontroversial, yang beberapa di antaranya merupakan loyalis politik dengan sedikit pengalaman di bidang mereka. Seperti Pete Hegseth, seorang pembawa acara Fox News dan perwira Garda Nasional Angkatan Darat yang ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan. Juga Linda McMahon, salah satu pendiri World Wrestling Entertainment (WWE), yang ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan.
Pemilu Uni Eropa
Salah satu peristiwa penting dalam politik Uni Eropa adalah Pemilu Parlemen Eropa yang berlangsung pada juni 2024. Kala itu, partai-partai sayap kanan dan populis merah peningkatan dukungan. Partai Rakyat Eropa (EPP), yang dipimpin Ursula von der Leyen, berhasil mempertahankan posisinya dengan memperoleh kursi terbanyak di parlemen Eropa. Hal ini membuatnya melanjutkan kembali kepemimpinan sebagai Presiden Komisi Eropa.
Selain itu, di beberapa negara besar Eropa juga mengalami pergeseran politik yang mencolok. Di Prancis, aliansi sayap kiri Front Populer Baru (NFP) meraih kemenangan mengejutkan dalam pemilu putaran kedua, mengalahkan partai National Rally (RN) yang berhaluan kanan.
Di Italia, partai-partai populis dan sayap kanan mengalami peningkatan dukungan yang signifikan, mencerminkan tren serupa di seluruh Eropa. Kenaikan ini menunjukkan pergeseran preferensi pemilih menuju kebijakan yang lebih nasionalis dan skeptis terhadap Uni Eropa.
Perubahan Kebijakan di China
Pada tahun 2024, China meluncurkan reformasi fiskal baru yang bertujuan untuk merangsang konsumsi domestik di tengah perlambatan pertumbuhan ekonominya. Kebijakan ini mencakup pemotongan pajak penghasilan bagi rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah, peningkatan subsidi untuk sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan, serta insentif bagi perusahaan kecil dan menengah (UMKM). Langkah-langkah ini dirancang untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong konsumsi dalam negeri sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, Kementerian Keuangan China juga menyatakan akan "memperluas skala pengeluaran fiskal dan mempercepat laju penggunaannya" demi mendorong perekonomian pada 2025. Kementerian Keuangan berjanji untuk memperkuat dukungan terhadap program pertukaran produk konsumen dan memperluas investasi pemerintah.
Kebijakan pro-pertumbuhan menjadi fokus utama pembuat kebijakan China untuk tahun depan, dengan janji menggunakan alat fiskal yang "lebih proaktif." Beberapa ekonom memproyeksikan stimulus fiskal secara keseluruhan akan meningkat hingga setara dengan sekitar 2% dari produk domestik bruto (PDB). Namun, jumlah ini dinilai masih tergolong moderat dalam konteks global dan dipandang kurang radikal untuk mencegah spiral deflasi serta menyelamatkan pasar properti.
Drama Politik Korea Selatan
Pada tahun 2024, Korea Selatan menghadapi drama politik besar yang mengguncang stabilitas pemerintahan. Presiden Yoon Suk-yeol mendeklarasikan darurat militer yang memicu kemarahan publik dan meningkatkan ketegangan politik, dengan parlemen dan oposisi menuduh Yoon menyalahgunakan kekuasaannya. Setelah proses politik yang intens, Yoon akhirnya dimakzulkan oleh parlemen dengan dukungan luas, termasuk dari partainya sendiri.
Han Duck-soo, yang menjabat sebagai perdana menteri, diangkat sebagai presiden sementara. Namun, pemerintahannya berjalan singkat setelah Partai Demokrat, yang merupakan oposisi utama, mengajukan mosi pemakzulan setelah Han menolak tekanan untuk segera menunjuk tiga hakim ke Mahkamah Konstitusi, yang meningkatkan kemungkinan putusan untuk memfinalkan pemecatan Yoon.
Choi Sang-mok, yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri untuk Urusan Ekonomi dan Menteri Keuangan, kemudian ditunjuk sebagai presiden berikutnya. Choi diharapkan membawa stabilitas politik dan ekonomi dengan fokus pada reformasi transparan dan pemulihan kepercayaan publik.
2. Konflik & Ketegangan Geopolitik
Perang Gaza
Pada 2024, konflik di Gaza mengalami eskalasi terburuk dalam beberapa dekade terakhir, dengan pertempuran sengit antara Israel dan kelompok-kelompok proksi di kawasan tersebut. Selain Hamas, kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi pro-Iran dari Irak dan Suriah terlibat dalam serangan terhadap Israel.
Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza, menargetkan infrastruktur Hamas dan Hizbullah. Serangan udara Israel menewaskan sejumlah pemimpin penting dari kedua kelompok tersebut, termasuk Yahya Sinwar (Hamas) dan Hasan Nasrallah (Hizbullah).
Laporan terkini dari Kementerian Kesehatan di Gaza, jumlah total kematian sejak Oktober 2023 telah lebih dari 45 ribu orang.
Di sisi lain, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang mematikannya di Gaza.
Perang di Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut dengan intensitas tinggi hingga akhir Desember 2024. Pasukan Rusia mengklaim telah merebut permukiman Novotroitske di wilayah Donetsk, Ukraina Timur, pada 29 Desember 2024.
Sementara itu, laporan mengenai keterlibatan pasukan Korea Utara dalam konflik ini semakin mengemuka. Pyongyang dilaporkan telah mengirim ribuan tentara untuk mendukung militer Rusia, termasuk ke wilayah perbatasan Kursk, tempat pasukan Ukraina melakukan serangan balasan.
Selain itu, Korea Utara juga dikabarkan menyiapkan pasukan tambahan dan drone bunuh diri untuk membantu Rusia dalam perang ini.
Di sisi lain, Presiden Terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyatakan niatnya untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Trump berjanji akan menggunakan pengaruh diplomatiknya untuk membawa kedua belah pihak ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan damai di hari pertamanya menjabat.
3. Ekonomi dan Perdagangan
Krisis Ekonomi Global
Ekonomi dunia tengah menghadapi tekanan akibat inflasi tinggi, ketegangan geopolitik, dan dampak dari krisis iklim. Ketidakseimbangan pasokan energi dan makanan juga makin memperburuk situasi, terutama di negara-negara berkembang. Bahkan tak sedikit negara maju yang terjerumus ke dalam jurang resesi.
Dilaporkan Kantor Kabinet pada Februari 2024, ekonomi Jepang menyusut pada kuartal kedua 2023 karena permintaan domestik yang lemah. Produk domestik bruto (PDB) Negeri Sakura ini mengalami kontraksi dengan tingkat tahunan sebesar 0,4% pada tiga bulan terakhir tahun lalu, menyusul revisi penurunan sebesar 3,3% pada kuartal sebelumnya.
Masih di bulan yang sama, Inggris mengumumkan secara resmi masuk resesi ringan pada paruh kedua 2023. Data dari Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS) menunjukkan PDB Inggris turun 0,3% pada kuartal keempat, lebih besar dari perkiraan penurunan 0,1% para ekonom. Angka ini mengikuti penurunan 0,1% pada tiga bulan sebelumnya.
Ekonomi Inggris memang dibelenggu oleh krisis biaya hidup terburuk dalam beberapa generasi dan kenaikan suku bunga yang cepat menekan peminjam. Aksi industrial di sektor kereta api dan kesehatan serta penurunan penjualan ritel turut menyebabkan penurunan PDB pada Desember 2023.
Negara Eropa selanjutnya yang juga mengalami krisis ialah Jerman. Produksi (output) Jerman mengalami penurunan akibat kemerosotan investasi pada kuartal IV 2023. Hal ini berpotensi membawa Jerman ke jurang resesi pertama sejak pandemi. Menurut Kantor Statistik, PDB Jerman menyusut 0,3% dalam tiga bulan terakhir 2023, sesuai perkiraan awal. Investasi modal anjlok 1,9%, sementara konsumsi swasta naik 0,2% dan pengeluaran pemerintah naik 0,3%. Data ini menyoroti kelemahan ekonomi Jerman yang berkepanjangan karena mengalami kontraksi 0,3% sepanjang 2023.
Resesi juga dialami Selandia Baru, yang secara tak terduga ekonominya mengalami kontraksi dalam tiga bulan terakhir tahun lalu, mengonfirmasi resesi pada paruh kedua dan membuat mata uangnya melemah karena para pedagang meningkatkan spekulasi penurunan suku bunga. Turki pun mengumumkan mulai memasuki resesi secara teknikal pada kuartal ketiga 2024.
Pemulihan Pasca-Pandemi
Tak sedikit negara, terutama di wilayah Asia, melaporkan pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang melambat. Negara-negara di wilayah lain juga merilis pertumbuhan ekonominya yang mulai membaik.
Dimulai dengan Jepang. Negeri Sakura ini merevisi data pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2023, yang menunjukan adanya peningkatan PDB yang tumbuh 0,4% secara tahunan (yoy) pada periode Oktober-Desember 2023, jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka ini lebih baik daripada proyeksi awal yang mengalami kontraksi 0,4%.
Inggris pun akhirnya berhasil keluar dari resesi ekonomi dengan pertumbuhan terkuat dalam lebih dari dua tahun, dan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh sektor jasa dan belanja konsumen. Menurut ONS, PDB Inggirs tumbuh 0,7% pada kuartal pertama 2024, lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan sebelumnya sebesar 0,6%.
Perekonomian AS pun bangkit kembali dari pandemi dengan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya, sebagian berkat pengeluaran konsumen dan ekspor yang lebih kuat. PDB AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3,1% pada kuartal ketiga 2024, menurut estimasi ketiga yang dirilis Biro Analisis Ekonomi pada Kamis (19/12/2024). Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang sebesar 2,8%. Pengeluaran konsumen tercatat tumbuh sebesar 3,7%, lebih tinggi dari sebelumnya yang sebesar 3,5%.
Reformasi Ekonomi India
India memperkenalkan kebijakan baru untuk menarik investasi asing, meningkatkan manufaktur lokal, dan memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama dunia. Hal ini diumumkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Nirmala Sitharman awal tahun ini.
Pemerintah India disebutnya akan meningkatkan pengeluaran infrastruktur sebesar 11% untuk tahun anggaran 2025. Meski anggaran infrastruktur meningkat, Nirmala menegaskan akan tetap mempertahankan batas defisit anggaran fiskal. Ia berjanji akan meningkatkan anggaran perumahan dalam lima tahun ke depan, memperluas listrik gratis, dan meningkatkan layanan kesehatan, terutama bagi perempuan.
India juga menargetkan untuk meningkatkan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) tahunan sebesar lebih dari 50% untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dalam tujuh tahun ke depan, India menargetkan menarik US$110 miliar (sekira Rp1.778,23 triliun) per tahun, yang berarti sekitar US$1 triliun lebih dalam 10 tahun ke depan.
India akan fokus pada delapan bidang prioritas untuk investasi: manufaktur elektronik, mobil, infrastruktur, energi hijau, pengolahan makanan, tekstil, farmasi, dan investasi institusi asing.
4. Perubahan Iklim dan Dampaknya
Catatan Tahun Terpanas
Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, di mana suhu rata-rata global naik lebih dari 1,6°C di atas level pra-industri. Kondisi yang dilaporkan oleh Copernicus Climate Change Service (C3S) ini memperburuk krisis iklim dan mempercepat penyebaran penyakit terkait perubahan iklim. Suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya ini memicu kebakaran hutan, banjir, topan, kekeringan, dan gelombang panas yang dahsyat, yang menelan ribuan korban jiwa dan kerugian ekonomi ratusan miliar dolar.
Beberapa wilayah Eropa mengalami hari terpanas tahun ini, di mana beberapa wilayah di Spanyol mencapai suhu 40 derajat celcius pada awal Agustus. Kondisi paling ekstrem tercatat di wilayah Mediterania dan Eropa Timur. Sementara di timur, Yunani berjuang melawan ratusan kebakaran dan ancaman tersebut kini meluas ke utara hingga ke Inggris.
Kota-kota di AS juga mengalami suhu tertinggi sepanjang sejarah, di mana New York membatalkan kereta komuter karena relnya terlalu panas. Australia pun mengalami Agustus terpanas sejak data dimulai pada tahun 1910.
Di wilayah Asia. Filipina mengalami kenaikan suhu yang mencapai rekor di ibu kota Manila pada akhir April. Menurut badan cuaca nasional, suhu di Manila melonjak hingga 38,8 derajat celcius. Dilaporkan ABS-CBN News, angka tersebut melampaui rekor tertinggi sebelumnya, yaitu 38,6 derajat celcius yang tercatat pada Mei 1915.
Indonesia mencatatkan rekor April paling panas sejak empat dekade terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan suhu rata-rata Indonesia mencapai 27,74 derajat Celcius pada April 2024 dan menjadi yang tertinggi untuk April sejak 1981.
Lebih dari 100 rekor suhu tertinggi terjadi di Vietnam pada April, sementara Bangladesh dan Myanmar juga mengalami rekor suhu tertinggi pada bulan tersebut.
Di seluruh dunia, suhu yang meningkat menimbulkan ancaman dan bahkan menyebabkan kematian saat berkegiatan di luar ruangan, seperti konser, acara olahraga, dan keagamaan. Lebih dari 1.300 orang meninggal selama ibadah haji di Arab Saudi pada Juni setelah suhu mencapai 52 derajat celcius. Ada kematian terkait panas di negara-negara lain, seperti AS, Thailand, India, dan Meksiko tahun ini.
Bencana Alam
Bencana alam selama tahun 2024 makin sering terjadi di berbagai negara di seluruh dunia, mulai dari banjir besar hingga kekeringan. Hal ini terjadi karena perubahan iklim akibat manusia telah mengubah cuaca menjadi ekstrem. Banjir dahsyat yang dipicu oleh hujan ekstrem telah merenggut ribuan nyawa dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Myanmar mengatakan banjir yang terjadi pada September telah menewaskan 419 orang di sembilan provinsi. Dalam pernyataannya, Soe Win, wakil kepala junta, mengatakan banjir yang disebabkan Topan Yagi dan musim hujan barat daya itu berdampak pada lebih dari 140.000 orang di 54 kota dan menenggelamkan 750.000 hektare lahan persawahan.
Topan Yagi juga memicu banjir bandang di Vietnam. Menurut televisi negara VTV, dilaporkan ada 157 kematian, dengan 139 orang hilang di seluruh wilayah utara negara tersebut. Menurut kementerian pertanian, lebih dari 101.000 rumah telah rusak dan lebih dari 40.000 rumah terendam banjir. Selain itu, sekitar 149.000 hektare sawah di Vietnam utara telah terendam banjir dan 26.200 hektare tanaman lainnya rusak.
Bulan berikutnya, Badai Helene menewaskan lebih dari 100 orang di enam negara bagian di Amerika Serikat (AS) bagian Selatan. Setelah menghantam pantai barat Florida pekan lalu, Helene menyebabkan banjir dahsyat di seluruh wilayah Appalachia.
Seluruh pulau utama Filipina dihantam banjir besar akibat Topan Tropis Trami. Bencana ini berdampak pada lebih dari 2 juta orang dan memaksa evakuasi massal serta penghentian operasi pemerintah. 24 orang dilaporkan tewas dan hampir 200.000 lainnya dievakuasi. Thailand pun tak luput dari banjir terburuk, memakan korban tewas 22 orang. Sementara ribuan warga masih bertahan di kamp pengungsian. Provinsi-provinsi di selatan Thailand telah dilanda hujan deras dan banjir bandang sejak 22 November, dan berdampak pada 664.173 rumah tangga, menurut Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana.
5. Teknologi dan Inovasi
Perlombaan AI Global
Pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi pusat persaingan antara AS, China, dan Eropa. Teknologi ini mulai diimplementasikan secara luas di bidang kesehatan, pertanian, dan militer.
AS telah memimpin dalam hal AI generatif saat OpenAI yang berbasis di San Francisco meluncurkan chatbot ChatGPT. Namun, China mulai mengejar. Hampir semua pemain teknologi besar di Negeri Tirai Bambu itu, mulai dari Baidu Inc hingga Tencent Holdings Ltd dan Alibaba Group Holding Ltd meluncurkan pesaing ChatGPT.
Menurut konsultan Preqin, AS memimpin dalam investasi AI, menarik US$26,6 miliar pada 2023 hingga pertengahan Juni dibandingkan dengan US$4 miliar untuk China. Kesenjangan keduanya mulai menyempit, setidaknya dalam aliran kesepakatan. Ada sekitar 447 kesepakatan ventura AI di AS pada periode yang sama, sementara jumlah kesepakatan di China setara dengan lebih dari dua pertiga dari total kesepakatan di AS, naik dari sekitar setengahnya dalam dua tahun terakhir.
Dalam hal mengubah ide menjadi bisnis dunia nyata, China tertinggal. Dari tahun 2013 hingga 2022, AS memimpin di semua wilayah dengan jumlah perusahaan AI yang baru didanai terbesar, yaitu lebih dari 4.600 perusahaan, 3,5 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perusahaan AI di China pada periode yang sama.
Kolaborasi Teknologi Baru
Negara-negara G20 meluncurkan inisiatif untuk memanfaatkan teknologi hijau guna mengurangi emisi karbon. G20 memiliki tanggung jawab atas 80 persen emisi global, yang harus dikurangi hingga sembilan persen setiap tahun pada dekade ini.
Dalam inisiatif tersebut, setiap negara harus membuat rencana baru yang selaras dengan target pengurangan emisi sebesar 1,5 derajat untuk tahun 2030 dan 2035. Mencakup ekonomi, seluruh sektor, dan gas rumah kaca.
Tiap negara juga harus berkontribusi pada tujuan global yang disepakati pada COP28 untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan, menggandakan efisiensi energi, dan menghentikan deforestasi—semuanya pada tahun 2030.
Sebagai salah satu negara anggota G20, Indonesia turut berkomitmen untuk mengambil langkah tegas guna mengurangi suhu global, melindungi lingkungan, dan mengatasi krisis sebagai bagian dari transisi menuju energi hijau.
6. Wabah dan Penyakit
Kenaikan Kasus Penyakit Infeksi
Pada tahun 2024, terjadi lonjakan kasus beberapa penyakit menular seperti dengue, pertusis (batuk rejan), dan mpox (monkeypox), yang dipicu oleh dua faktor utama: perubahan iklim dan penurunan tingkat vaksinasi global. Perubahan iklim meningkatkan penyebaran penyakit ini karena kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, cuaca panas, dan kelembapan yang lebih tinggi menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi vektor penyakit seperti nyamuk pembawa dengue dan virus lainnya.
Sementara itu, penurunan tingkat vaksinasi global menyebabkan tingkat kekebalan populasi menurun, memperburuk penyebaran penyakit seperti pertusis dan mpox. Hal yang sama juga berdampak pada peningkatan virus-virus yang menjangkit saluran pernapasan seperti RSV dan Strep A di seluruh dunia. Para ilmuwan di Selandia Baru menyebutkan penurunan kadar antibodi sebagai penyebabnya.
Respons antibodi pada 150 donor darah rutin diukur selama tiga tahun pertama pandemi untuk melihat kekebalan terhadap berbagai patogen yang dikenal menyebabkan penyakit musiman. Meskipun antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab Covid meningkat pesat hingga Maret 2023 — seiring dengan vaksinasi dan infeksi setelah perbatasan Selandia Baru dibuka kembali — perlindungan terhadap Group A Streptococcus dan virus syncytial pernapasan justru menurun.
Penurunan ini mencerminkan berkurangnya peredaran patogen tersebut di komunitas akibat penggunaan masker, larangan perjalanan, dan pembatasan sosial, kata para peneliti Selandia Baru dalam sebuah studi baru. Meskipun langkah-langkah tersebut berhasil menanggulangi Covid hingga sebagian besar orang divaksinasi, hal ini justru memicu kebangkitan patogen pernapasan lainnya — yang beredar pada tingkat yang lebih tinggi dan akhirnya menyerang orang-orang yang lebih rentan, kata penulis bersama Nikki Moreland, seorang profesor di bidang infeksi dan kekebalan di Universitas Auckland.
RSV — yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan berat, termasuk pneumonia, pada anak-anak dan lansia — mulai meningkat pada akhir 2021 sebelum SARS-CoV-2 menyebar luas di Selandia Baru, menunjukkan bahwa wabah ini dipicu oleh penurunan kekebalan di tingkat populasi, bukan akibat gangguan kekebalan yang disebabkan oleh Covid sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ilmuwan.
Virus Marburg di Afrika
Menurut duta besar kesehatan pemerintah AS, infeksi virus Marburg pertama yang tercatat di Rwanda, demam berdarah yang mirip dengan Ebola, menandai bahwa wabah penyakit berbahaya yang ditularkan oleh hewan semakin sering terjadi di dunia yang semakin terhubung.
Kementerian Kesehatan Rwanda melaporkan setidaknya 11 orang telah meninggal akibat penyakit ini pada Oktober, yang dibawa oleh kelelawar rousette Mesir. Selain itu, 25 orang telah diisolasi sejak penyebaran dimulai di unit perawatan intensif di Kigali, ibu kota Rwanda. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, kasus-kasus penyakit ini telah ditemukan di delapan dari 30 distrik di Rwanda.
Peningkatan frekuensi wabah zoonosis—penyakit yang berasal dari hewan dan menular ke manusia—telah diprediksi selama beberapa dekade, seiring dengan pertumbuhan populasi dan peningkatan transportasi.
"Ini adalah ketidakseimbangan ekologis di mana kita semakin bergerak ke area yang sebelumnya belum kita jamah," ujar John Nkengasong, pejabat senior AS untuk keamanan kesehatan global dan diplomasi, dalam sebuah wawancara di Pretoria, Afrika Selatan, pada Rabu (02/10/2024).
"Ini mendorong kemunculan penyakit, dan kita sekarang menyaksikan bagaimana penyakit-penyakit ini muncul."
Marburg, yang juga dapat menginfeksi primata, menimbulkan gejala seperti demam, ruam, dan pendarahan hebat. Tingkat kematian akibat infeksi ini bisa mencapai lebih dari 80%. Meskipun penyakit Marburg telah menyebabkan kematian, jumlahnya tetap lebih rendah dibandingkan dengan Ebola, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang di Afrika Barat dalam wabah antara 2013 hingga 2016.
(del/roy)





























