Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, harga Bitcoin sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran US$ 73.000 pada 14 Maret lalu. Selepas itu, harga anjlok lebih dari 10%.

“Pelaku pasar sedang mencari-cari katalis untuk mendukung kenaikan harga,” ujar Chris Newhouse, Analis Cumberland Labs, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Sedangkan riset JPMorgan Chase & Co menyebut Bitcoin sepertinya masih di fase jenuh beli (overbought). Oleh karena itu, ada kemungkinan koreksi akan berlanjut. Bulan lalu, JPMorgan memperkirakan harga Bitcoin bisa anjlok ke arah US$ 42.000.

Analisis Teknikal

Bagaimana prospek harga Bitcoin untuk pekan depan? Apakah ada peluang bangkit?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), Bitcoin sejatinya masih bullish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 77,38.

RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI di atas 70 juga menjadi sinyal bahwa sudah tergolong jenuh beli (overbought).

Sedangkan indikator Stochastic RSI berada di angka 50,69. Masih cenderung netral.

Dengan demikian, dapat dikatakan harga Bitcoin sepertinya masih akan tertekan. Target support terdekat adalah US$ 62.206. Jika tertembus, maka US$ 53.725 bisa menjadi target selanjutnya.

Sementara target resisten terdekat adalah US$ 64.510. Penembusan di titik ini bisa membawa harga Bitcoin turun lagi menuju US$ 68.008.

(aji)

No more pages