Logo Bloomberg Technoz

Hal tersebut, katanya, menyebabkan neraca SVB mengalami penurunan yang ditambah dengan timbulnya rumor sehingga terjadi bank run (penarikan dana nasabah dari bank dalam jumlah besar dan cepat)

"Situasi ini bisa berkembang hanya dalam waktu 1x24 jam, itulah yang kita lihat dengan SVB ini. Makanya, kita juga perlu terus waspada karena transmisi dari persepsi dan psikologi itu bisa menimbulkan situasi yang cukup signifikan bagi sektor keuangan seperti di Amerika Serikat," ungkapnya.

Efek SVB Bisa Merambat ke Indonesia?

Kebangkrutan SVB yang berujung pada penutupan bank tersebut oleh otoritas perbankan AS harus dicermati lebih dalam oleh investor. Menurut Fajar Dwi Alfian, Analis Infovesta Kapital Advisori, pelajari lebih dalam sektor perbankan.

"Investor akan lebih berhati-hati, terutama terhadap sektor perbankan, dimana bank sangat rentan sekali dengan risiko, salah satunya adalah risiko likuiditas dan mismatch. Dalam jangka pendek mungkin akan ada net sell," ungkap Fajar.

Fajar kembali menjelaskan, akan ada kekhawatiran dari investor atas efek spill over dari runtuhnya SVB, terutama jika dampaknya sampai ke bank-bank di Asia karena dapat menekan pasar saham.

Pergerakan saham-saham perbankan di Asia. (Dok Bloomberg)

Pada akhir perdagangan Selasa (14/3/2023) sore, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 145,14 poin atau 2,14% ke level 6.641,81. Satu hari berselang, pada pagi ini perdagangan saham Indonesia menunjukkan pembalikan arah.

IHSG rebound dan dibuka menguat 62,19 poin atau 0,94% ke level 6.704 di awal sesi 1. Saham-saham sektor transportasi  jadi penopang pengutan bursa saham Indonesia. Salah duanya adalah PT Transkon Jaya Tbk (TRJA) yang menguat 5,1% ke posisi Rp 286/saham, dan PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) yang naik 4% ke posisi Rp 208/saham.

Fajar menilai pelaku pasar ekuitas di Indonesia memang cenderung bergerak anomali. Pasar kerap telat merespon kondisi bursa global, termasuk sentimen penutupan SVB pada pekan ini.

(tar/wep)

No more pages