Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Perpanjangan Likuiditas Rp200 T di Himbara Kurang Efektif

Mis Fransiska Dewi
25 February 2026 16:50

Rupiah Terlemah di Asia, Imbas Keputusan Penurunan BI Rate (Bloomberg Technoz)
Rupiah Terlemah di Asia, Imbas Keputusan Penurunan BI Rate (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sejumlah ekonom menilai langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk memperpanjang penempatan dana pemerintah senilai Rp200 triliun di perbankan kurang efektif mendorong ekspansi kredit secara signifikan. Pasalnya, akar masalah bukan pada sisi suplai likuiditas, melainkan sisi permintaan yang lemah. 

Dana yang berasal dari saldo anggaran lebih (SAL) tersebut semula akan jatuh tempo pada 13 Maret 2026 dan langsung diperpanjang Purbaya selama enam bulan hingga September 2026.

“Belajar dari pengalaman tahun lalu, kebijakan ini kurang berhasil dalam mendorong ekspansi kredit secara signifikan,” kata ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi, Rabu (25/2/2026). 


Yusuf berpandangan permintaan kredit yang lemah karena kehati-hatian dunia usaha dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Dalam kondisi seperti ini, tambahan likuiditas di perbankan cenderung hanya meningkatkan dana menganggur (idle liquidity) atau dialokasikan ke instrumen keuangan yang lebih aman seperti surat berharga negara, bukan disalurkan terhadap kredit produktif.

Dia menjelaskan, dari sisi likuiditas perbankan, kebijakan ini memang memberi dampak positif jangka pendek karena memperkuat basis pendanaan bank-bank Himbara, menurunkan risiko ketidakcocokan kondisi atau mismatch likuiditas dan menjaga rasio likuiditas seperti rasio pembiayaan terhadap ketersediaan dana atau LDR (Loan to Deposit Ratio) tetap sehat.