“Kami sepenuhnya memahami pentingnya melindungi kedaulatan Eropa, mempertahankan peran sentral NATO dalam pertahanan kolektif, serta memastikan setiap negara tetap memiliki hak untuk menentukan keputusan keamanannya sendiri,” kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly dalam sebuah pernyataan.
Dalam unggahan di X pekan ini, Jared Kushner, menantu sekaligus utusan Presiden Donald Trump, menulis bahwa tujuan AS adalah “mengembangkan pengaturan praktis yang dapat mengakomodasi kekhawatiran keamanan semua pihak”.
“Kami tengah menjajaki lima tujuan utama: konsultasi keamanan permanen, komunikasi krisis yang andal, transparansi militer yang lebih besar, langkah-langkah timbal balik untuk mengurangi risiko eskalasi, serta kerangka kerja jangka panjang yang berkelanjutan demi keamanan dan stabilitas Eropa,” tulis Kushner dalam unggahan tersebut setelah menggelar pembicaraan dengan para pejabat Eropa dan Ukraina.
Dorongan AS untuk segera mencapai kesepakatan tampaknya membuat sejumlah ibu kota negara Eropa gelisah. “Kita tidak seharusnya menginginkan perdamaian lebih besar daripada Putin,” kata Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski kepada wartawan di Warsawa pada Kamis.
Pendekatan AS juga mendapat penolakan dari kalangan Demokrat di Kongres. Hal ini menjadi persoalan bagi Trump karena Partai Demokrat diperkirakan akan menguasai mayoritas di kedua kamar Kongres setelah pemilihan paruh waktu pekan ini. Bersama sejumlah anggota Partai Republik yang memiliki pandangan serupa, mereka dapat mempersulit upaya Trump untuk mengakomodasi kepentingan Putin.
“Kita sebenarnya sudah memiliki arsitektur keamanan Eropa. Namanya NATO,” kata Senator Michael Bennet, anggota Partai Demokrat dari Colorado, dalam tanggapannya terhadap unggahan Kushner di X. “Dan ancaman terbesar bagi keamanan Eropa bukanlah kurangnya dialog, melainkan Vladimir Putin.”
Selain beririsan dengan peran NATO, proposal Kushner juga tampaknya menduplikasi banyak tujuan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), sebuah badan yang dibentuk pada 1970-an dan beranggotakan AS, Rusia, serta banyak negara Eropa. Organisasi tersebut bertujuan menjaga stabilitas dan perdamaian di seluruh benua.
Salah satu persoalan yang belum terselesaikan adalah perincian jaminan keamanan yang akan diberikan negara-negara sekutu kepada Ukraina untuk memastikan Rusia tidak kembali menyerangnya jika kesepakatan damai tercapai. Persoalan lainnya adalah bantuan seperti apa yang akan diberikan kepada Kyiv jika serangan kembali terjadi, menurut sejumlah sumber tersebut.
Moskow menentang kehadiran militer negara-negara Barat di Ukraina. Sementara itu, Kyiv dan sekutu-sekutu Eropanya menilai kehadiran tersebut diperlukan untuk mencegah Rusia kembali menyerang negara tetangganya itu pada masa mendatang, menurut sejumlah sumber tersebut.
Negara-negara sekutu, termasuk AS, telah membahas kemungkinan pemberian jaminan kepada Ukraina yang serupa dengan klausul pertahanan bersama NATO, yang dikenal sebagai Pasal 5. Dukungan tersebut akan mencakup persenjataan dan kemampuan militer lainnya, meski garis pertahanan pertama Ukraina tetap bertumpu pada militernya sendiri. Rusia sebelumnya menuntut agar jumlah personel dan kemampuan militer Ukraina dibatasi.
Sejumlah sumber tersebut menegaskan bahwa gencatan senjata harus dicapai sebelum kesepakatan apa pun terkait keamanan pascaperang dibahas. Pengaturan semacam itu juga harus mendapat persetujuan dari seluruh negara Eropa.
Dalam perundingan di Abu Dhabi, Ukraina dan Rusia diperkirakan akan melanjutkan pembahasan dari tahap sebelumnya. Agenda tersebut mencakup mekanisme penerapan dan pemantauan kesepakatan damai, serta kemungkinan langkah-langkah untuk meredakan ketegangan. Para pejabat Eropa kemungkinan akan berada di kota tersebut, tetapi diperkirakan hanya akan ikut serta dalam perundingan jika terdapat kemajuan yang memadai, menurut sejumlah sumber tersebut.
Perundingan mengenai wilayah untuk sementara sebagian besar ditangguhkan karena persoalan tersebut membutuhkan keputusan politik di tingkat yang lebih tinggi. Putin tetap bersikeras menginginkan seluruh wilayah Donbas di Ukraina timur dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah pendiriannya, menurut sejumlah sumber tersebut.
Para pejabat Eropa masih meyakini bahwa presiden Rusia itu saat ini tidak berminat untuk terlibat secara serius dalam perundingan guna mengakhiri perang dalam beberapa bulan mendatang. Sebaliknya, Putin dinilai berfokus pada upaya mematahkan semangat rakyat Ukraina melalui kampanye pengeboman intensif, meski pasukannya tidak mengalami kemajuan di medan perang dan menderita kerugian dalam jumlah tertinggi sepanjang perang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan utusan Trump Steve Witkoff “berpikir bahwa persoalannya adalah wilayah,” kata Sikorski. “Tidak, bukan itu. Persoalannya adalah membangun kembali Kekaisaran Rusia.”
“Terkadang, tampaknya tekanan yang lebih besar justru diberikan kepada korban daripada pihak yang melakukan agresi,” ujarnya.
(bbn)































