Untuk mengatasi hal tersebut, kata dia, industri belakangan juga berupaya mencari alternatif bahan baku selain impor, termasuk mencari rute hingga angkutan alternatif yang lebih terjangkau.
"Industri kita masih cukup bagus sebenarnya, tapi karena banyak hambatan-hambatan, mungkin ini menjadi tantangan kita," kata dia.
"Ini yang kita sedang cari gitu ya. Sebetulnya paling bagus kalau dalam negeri bisa memenuhi gitu, sehingga kita akan lebih mudah untuk mengelolanya. Tapi ini kan perlu strategi jangka panjang gitu menurut saya."
Akhir Oktober lalu rupiah memang sempat mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah atau all time low mencapai di level Rp18.183/US$, seiring masih besarnya ketidakpastian geopolitik hingga isu arus keluar modal asing.
Per hari ini, Jumat (6/11/2026) pukul 11:52 WIB, US$1 juga masih setara dengan Rp 18.133 di perdagangan pasar spot, meski mengalami penguatan dari akhir Oktober, namun masih terdepresiasi 0,28% dari hari sebelumnya.
Potensi Naikkan Harga
Menyikapi hal tersebut, Adhi tidak menutup kemungkinan sejumlah produsen mamin dalam negeri akan ikut mengerek harga produknya untuk menekan pembengkakan biaya operasional pada awal 2027 mendatang.
Estimasi kenaikan harga akan berkisar antara 5% hingga 6%. Jika tidak menaikkan harga, kemungkinan lain akan menyasar kepada efisiensi ukuran produk yang mungkin lebih kecil.
"Kelihatannya demikian [akan menaikkan harga produk].Kita belum tahu ya masing-masing ya, tapi rata-rata kalau saya lihat industri mamin tuh average ya se- sekitar 5–6% lah. Itu pun sudah cukup tinggi gitu ya, karena price sensitive," kata dia.
"Kalau enggak naik harga ya mengurangi ukuran gitu ya. Apalagi teman-teman kita yang di industri tempe misalnya ya. Kalau dulu beli tempe besar, sekarang mulai kecil karena daya beli."
(ain)






























