Di sisi lain, sejumlah broker asing masih melakukan pembelian saham BRPT. UOB Kay Hian Sekuritas (AI) memimpin pembelian bersih dengan nilai Rp63,7 miliar, disusul DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DP) sebesar Rp52,1 miliar dan CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) sebesar Rp49,1 miliar.
Dengan demikian, meskipun sejumlah broker asing besar berada di sisi penjualan, aktivitas pembelian oleh broker asing lainnya masih berlangsung.
Namun, data tersebut memperlihatkan Maybank dan UBS menjadi dua broker dengan tekanan jual terbesar pada periode tersebut.
Berbeda dengan BRPT, saham BRMS masih mencatatkan pembelian bersih oleh sejumlah broker asing.
J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) memimpin pembelian bersih dengan nilai Rp58,6 miliar atau sekitar 1,9 juta lot saham pada harga rata-rata Rp383 per saham.
Danatama Makmur Sekuritas (II) menyusul dengan pembelian bersih Rp37,2 miliar atau sekitar 732.700 lot pada harga rata-rata Rp505/saham.
Sementara itu, UBS Sekuritas Indonesia (AK) mencatatkan pembelian bersih Rp24,8 miliar atau sekitar 743.500 lot pada harga rata-rata Rp396/saham.
Di sisi penjualan, CGS International Sekuritas Indonesia (YU) menjadi broker dengan penjualan bersih terbesar saham BRMS, mencapai Rp59,6 miliar.
OCBC Sekuritas Indonesia (TP) menyusul dengan net sell Rp21,8 miliar, sedangkan RHB Sekuritas Indonesia (DR) mencatatkan penjualan bersih Rp10,6 miliar.
Aktivitas transaksi tersebut menunjukkan bahwa pembelian saham BRMS oleh sejumlah broker asing masih berlangsung, meskipun tekanan jual juga datang dari broker asing lainnya. J.P. Morgan dan UBS tercatat sebagai pembeli bersih, sementara CGS International, OCBC, dan RHB berada di sisi penjualan.
Saham Ambles
Perbedaan aktivitas broker tersebut terjadi ketika harga kedua saham mengalami koreksi tajam sepanjang 2026.
Berdasarkan data perdagangan 6 November 2026, saham BRPT berada di level Rp850/saham atau anjlok 74,01% secara year to date (YTD) dari posisi awal tahun Rp3.270/saham.
Sementara itu, saham BRMS berada di level Rp308/saham, turun 72% YTD dari posisi awal tahun Rp1.100/saham.
Secara akumulasi sejak awal tahun hingga 5 November 2026, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) menjadi broker dengan pembelian bersih terbesar saham BRMS, mencapai Rp936,2 miliar atau sekitar 8,5 juta lot pada harga rata-rata Rp775/saham.
Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) menempati posisi kedua dengan net buy Rp303,6 miliar atau sekitar 4,2 juta lot pada harga rata-rata Rp745/saham.
Adapun Inti Fikasa Sekuritas (BF) mencatatkan pembelian bersih Rp253,4 miliar atau sekitar 3,3 juta lot pada harga rata-rata Rp840/saham.
Di sisi penjualan, UBS Sekuritas Indonesia (AK) memimpin net sell BRMS dengan nilai Rp443,5 miliar. BNI Sekuritas (NI) menyusul dengan penjualan bersih Rp349,1 miliar, sedangkan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) mencatatkan net sell Rp224,9 miliar.
Adapun pada saham BRPT, Stockbit Sekuritas Digital (XL) memimpin pembelian bersih year-to-date dengan nilai Rp448,8 miliar atau sekitar 2 juta lot pada harga rata-rata Rp1.850/saham.
Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) berada di posisi kedua dengan net buy Rp427,4 miliar atau sekitar 1,8 juta lot pada harga rata-rata Rp1.889/saham.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas (OD) mencatatkan pembelian bersih Rp423,3 miliar atau sekitar 2,2 juta lot pada harga rata-rata Rp1.849/saham.
Di sisi lain, Trimegah Sekuritas Indonesia (LG) menjadi broker dengan penjualan bersih terbesar saham BRPT sepanjang tahun berjalan, mencapai Rp384,7 miliar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menyusul dengan net sell Rp330,8 miliar dan CGS International Sekuritas Indonesia (YU) sebesar Rp306,7 miliar.
Reklasifikasi MSCI
Tekanan harga BRPT dan BRMS berlangsung menjelang pengumuman review indeks MSCI pada 12 November mendatang. Hasil penyesuaian indeks tersebut dijadwalkan berlaku efektif mulai 1 Desember 2026.
Dalam riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, BRMS berpotensi mengalami penurunan klasifikasi dari MSCI Standard Cap ke Small Cap. Sementara itu, BRPT berpotensi dikeluarkan dari MSCI Standard Cap.
Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin memperkirakan probabilitas BRMS dikeluarkan dari MSCI Standard Cap mencapai sekitar 90%, sedangkan peluang BRPT sekitar 40%.
Ambang batas harga saham BRMS untuk mempertahankan posisinya di MSCI Standard Cap diperkirakan berada di level Rp440/saham.
Namun, saham tersebut hanya ditutup di atas level tersebut pada satu dari sepuluh hari perdagangan selama periode observasi 19–30 Oktober 2026.
Adapun BRPT memiliki ambang batas harga sekitar Rp1.290/saham. Saham tersebut tercatat ditutup di bawah level tersebut pada empat dari sepuluh hari perdagangan dalam periode observasi yang sama.
Mirae Asset memperkirakan potensi arus dana keluar pasif mencapai Rp300 miliar apabila BRMS turun kelas ke MSCI Small Cap. Sementara itu, potensi arus dana keluar dari BRPT diperkirakan mencapai Rp900 miliar apabila saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Standard Cap.
(fik/naw)





























