Logo Bloomberg Technoz

"Para produsen barang jadi kini hanya membeli dalam jumlah terbatas sesuai kebutuhan mendesak."

Pasar Tembaga China makin Ketat. (Bloomberg)

Harga tembaga sempat melesat hingga mencapai rekor tertinggi tahun ini, dipicu spekulasi bahwa pemerintahan Trump akan mengenakan tarif terhadap logam olahan—yang menarik tembaga dalam volume besar ke AS, sehingga menekan pasar di wilayah lain. 

Namun, lonjakan harga tersebut mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai keberlanjutan lonjakan belanja pusat data (data center), yang selama ini menjadi pendorong utama permintaan.

Kondisi ketat ini juga terlihat di pasar berjangka; harga tembaga untuk pengiriman Desember di Shanghai diperdagangkan dengan premi US$880 per metrik ton dibandingkan dengan harga untuk pengiriman Januari—kondisi backwardation (harga spot lebih mahal daripada harga berjangka) terparah sejak 2022.

Sementara itu, premi Yangshan untuk tembaga impor—indikator lain bagi permintaan domestik—telah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Harga kontrak berjangka tembaga naik tipis 0,2% menjadi US$14.044,50 per metrik ton di London Metal Exchange pada pukul 10.16 pagi waktu Singapura. Logam dasar lainnya juga cenderung menguat; aluminium naik 1,1%. Harga kontrak berjangka bijih besi naik 1,2% menjadi US$92,75 per metrik ton di Singapura.

(bbn)

No more pages