Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, nilai impor pati sagu Jepang pada 2025 mencapai sekitar US$10,5 juta, meningkat 35% dibandingkan 2021. Meski meningkat, kata Sarmuji, angka itu masih memiliki ruang peningkatan lebih jauh.

"Ekspor kita ke Jepang belum maksimal. Data terbaru 2025 baru 14% kita suplai ke Jepang. Kita akan dorong melalui kemitraan," tutur dia.

Menurutnya, ada satu persoalan yang perlu dijawab yakni bagaimana memperluas diversifikasi produk olahan sagu agar tidak hanya bergantung pada pemanfaatan tradisional. 

Padahal, sagu juga dapat diolah menjadi mi, beras analog, pasta, biskuit, hingga bahan baku produk industri lainnya. Sagu juga bisa dikembangkan menjadi bahan baku bio-packaging dan bioetanol.

“Dengan demikian pengembangan industri sagu kita memiliki peluang untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular di mana satu sumber daya bisa dimanfaatkan dengan banyak tahap," kata dia.

Buat Drilling Pertamina

Di sisi lain, Sarmuji mengatakan, sagu juga dapat dimanfaatkan untuk bahan pendukung proses pengeboran atau drilling sumur minyak milik PT Pertamina (Persero), yang kini juga tengah dikembangkan dan mulai uji coba oleh BRIN.

Rencana ini juga telah dikoordinasikan otoritas perindustrian dengan Pertamina lewat audiensi yang juga digelar secara bersamaan hari ini.

"Tadi BRIN ternyata juga sudah mulai melakukan uji coba, bukan hanya meneliti tapi sudah melakukan uji coba bagaimana tepung sagu dimanfaatkan untuk drilling," kata dia.

Kebutuhan tepung sagu untuk pengeboran diperkirakan mencapai sekitar 10 ton per sumur. Dengan jumlah sumur yang dikelola Pertamina sekitar 900-an, maka ada potensi penyerapan sekitar 10.000 ton.

"Kalau di BUMN kita, Pertamina, memakai 10.000 ton per sumur dan ada sekitar 900 sumur, itu saja sudah captive market yang luar biasa. Belum sumur-sumur yang lain yang dikelola oleh swasta," ujarnya. "Sagu kita cukup banyak. Perlu dikuatkan skala industrinya."

(ain)

No more pages