Logo Bloomberg Technoz

“Saya tidak meminta siapa pun untuk mengorbankan nilai-nilai utama mereka,” kata presiden yang lebih banyak menjalankan fungsi seremonial tersebut. “Namun, dalam situasi saat ini, ketika tidak ada pemenang yang jelas setelah pemilu, saya meminta adanya pemikiran yang orisinal dan kreatif, keberanian, serta iktikad baik.”

Tidak adanya pemenang mutlak membuat posisi Israel di mata dunia internasional berada dalam ketidakpastian. Presiden AS Donald Trump, yang berperang melawan Iran bersama Netanyahu, sebelumnya mendesak warga Israel untuk kembali memilih perdana menteri petahana yang telah lama berkuasa tersebut. Namun, kekalahan telak Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu pada Selasa (3/11) berpotensi semakin mengisolasi pemimpin Israel itu. Terlebih lagi, sejumlah kekuatan Barat lainnya secara terang-terangan menilai bahwa kebijakan garis keras pemerintahan Netanyahu terhadap Palestina sangat pantas dijatuhi sanksi.

Eisenkot, mantan jenderal berhaluan tengah yang kubunya menguasai 48 dari 120 kursi di parlemen Israel, atau Knesset, berpeluang menutup kekurangan kursi dengan berkoalisi bersama dua partai Arab yang secara keseluruhan memperoleh 19 kursi. Partai Likud yang konservatif pimpinan Netanyahu menggambarkan kemungkinan tersebut sebagai pakta pengkhianatan dengan politisi pro-Palestina yang dapat mengancam keamanan. Likud juga menyoroti penyelidikan atas dugaan keterlibatan dana asing dalam tingginya tingkat partisipasi pemilih Arab yang tidak biasa.

Pada Rabu, Komite Pemilihan Umum Pusat menyatakan bahwa setelah meninjau seluruh pengaduan yang masuk, pihaknya tidak menemukan “bukti adanya penyimpangan” yang memengaruhi hasil pemungutan suara.

Likud menuduh Jaksa Agung Gali Baharav-Miara menghambat penyelidikan yang dilakukan badan keamanan dalam negeri Shin Bet terkait dugaan kecurangan pemilih. Baharav-Miara telah lama menjadi pihak yang berseberangan dengan Netanyahu karena secara terbuka menentang sejumlah kebijakan pemerintahannya.

Baharav-Miara mengatakan Shin Bet belum menyampaikan temuan terbaru kepada tim gabungan penyelidik. “Di negara yang menjunjung supremasi hukum, warga negara maupun pejabat terpilih tidak dapat diselidiki tanpa bukti yang menjadi dasar penyelidikan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Shin Bet menolak memberikan komentar. Sementara itu, partai-partai Arab membantah melakukan pelanggaran dan menuduh Netanyahu berusaha mendiskreditkan mereka. Warga Arab, yang sebagian besar mengidentifikasi diri sebagai warga Palestina, mencakup 21% dari total populasi Israel.

Peta politik Israel yang terdiri atas beragam partai dan koalisi dengan kekuatan berbeda membuat jalan menuju kekuasaan bagi kedua kandidat menjadi rumit. Eisenkot tampaknya memiliki dukungan lebih besar di antara partai-partai peserta pemilu dibandingkan Netanyahu. Partai-partai yang secara tegas menentang Netanyahu, yang merupakan pemimpin Israel dengan masa jabatan terlama, menguasai 67 dari total 120 kursi Knesset.

Namun, Likud muncul sebagai partai tunggal dengan perolehan kursi terbanyak, yakni 27 kursi. Sementara itu, blok Netanyahu menguasai 53 kursi, hanya terpaut delapan kursi dari mayoritas. Perhitungan tersebut didasarkan pada koalisi pemerintahannya selama masa jabatan empat tahun yang dimulai pada 2022.

Meski demikian, belum jelas apakah dukungan tersebut akan bertahan. Blok Netanyahu mencakup satu partai Yahudi ultra-Ortodoks yang memiliki tujuh kursi. Partai tersebut marah karena Netanyahu gagal memberikan jaminan mutlak bahwa konstituennya akan dibebaskan dari wajib militer. Partai itu juga belum menyatakan akan mendukung Netanyahu.

Warga Arab Israel juga dibebaskan dari wajib militer. Hal ini berpotensi menjadi hambatan bagi Eisenkot untuk membentuk koalisi bersama para politisi dari kelompok tersebut. Mantan jenderal itu selama ini bersikukuh bahwa seluruh warga Israel harus menjalani semacam bentuk pengabdian nasional, meskipun tidak harus berupa dinas militer.

Partai-partai Arab enggan mengakui Israel sebagai negara Yahudi atau menyebut Hamas sebagai organisasi teroris. Sikap tersebut semakin mempersulit kubu Eisenkot untuk menyepakati kerja sama dengan mereka. Eisenkot kehilangan seorang putra dan dua keponakannya saat bertempur melawan Hamas dalam perang di Gaza.

Jika Trump memutuskan kembali melancarkan serangan terhadap Iran, Eisenkot mungkin akan terdorong membentuk pemerintahan darurat bersama Netanyahu, menurut Avigdor Liberman, pemimpin partai oposisi sayap kanan yang memperoleh tujuh kursi dalam pemilu.

“Dalam situasi seperti itu, akan ada tekanan besar untuk membentuk pemerintahan persatuan,” katanya kepada wartawan pada Senin. “Tekanan itu bisa datang dari Trump, Presiden Herzog, ataupun masyarakat luas.”

Liberman menegaskan kembali sikap yang telah disampaikannya sebelum pemilu bahwa partainya tidak akan bergabung dengan koalisi yang dipimpin Netanyahu dalam keadaan apa pun.

Jika kandidat yang ditunjuk Herzog gagal membentuk pemerintahan dalam tenggat enam pekan yang diberikan, kesempatan tersebut kemungkinan akan beralih kepada rivalnya dengan jangka waktu serupa. Jika kandidat kedua juga gagal, Israel terpaksa menggelar pemilihan umum kembali dalam beberapa bulan ke depan.

(bbn)

No more pages