Logo Bloomberg Technoz

Kendati demikian, Mahardika menegaskan, perseroannya bakal tetap mempertahankan investasi tersebut di tengah penurunan kinerja saham CITA imbas aksi jual investor asing selama satu tahun terakhir.

“Tidak ada dampak yang signifikan atas investasi tersebut dikarenakan porsi kepemilikan perseroan atas perusahaan tersebut tidak material,” kata Mahardika.

ADMR masuk ke CITA lewat investasi sekitar Rp572,79 miliar pada pertengahaan 2025. Saat itu, ADMR membeli 145,6 juta saham CITA yang dipegang oleh afiliasinya PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) di harga Rp3.934 per saham.

Besaran saham itu setara 3,67% saham beredar CITA, perusahaan yang dikendalikan oleh Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dan Lim Gunardi Hariyanto — taipan di balik konglomerasi bisnis Grup Harita yang ikut mengendalikan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel.

Adapun, posisi floating loss ADMR pada saham CITA berpotensi makin lebar jika mengacu pada perdagangan saham pagi ini, Rabu (4/11/2026). Saham CITA telah melorot 38,03% pada ke level Rp2.770 per saham tahun ini.

Seperti diketahui, CITA ikut berpartisipasi dalam proyek smelter aluminium yang dikembangkan oleh ADMR lewat PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

CITA memegang 12,5% saham KAI sementara itu PT Alamtri Indo Aluminium menguasai 65% saham KAI. Sisanya, saham KAI dipegang oleh Aumay Mining Pte. Ltd.

Belakangan, ADMR mencetak pertumbuhan laba yang signifikan secara tahunan selepas kinerja impresif lini bisnis aluminium tersebut.

ADMR mencetak laba US$317,53 juta atau sekitar Rp5,75 triliun yang ditopang penjualan aluminium sampai akhir September 2026. Pendapatan ADMR sebesar US$1,2 miliar, separuh di antaranya berasal dari segmen aluminium.

Dari lantai bursa, saham ADMR ikut tertekan seiring dengan aksi jual investor asing atas saham Indonesia. Saham ADMR telah merosot 18,27% ke level Rp1.275 per saham tahun ini.

(naw)

No more pages