Pemilu menambah lapisan ketidakpastian baru terhadap kondisi pasar yang sudah rapuh. Polymarket memperkirakan probabilitas sekitar 95% bagi Partai Demokrat untuk menguasai House of Representatives (DPR AS) dan sekitar 77% untuk memenangkan Senat. Hal ini mengindikasikan potensi kemenangan Demokrat di kedua kamar Kongres.
Perbedaan antara hasil jajak pendapat dan ekspektasi pasar prediksi kembali menarik perhatian ketika investor mengambil posisi untuk mengantisipasi hasil pemilu.
"Pasar telah mengambil posisi untuk mengantisipasi reli pemulihan setelah pemilu paruh waktu. Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi rotasi yang tajam ketika investor berupaya mengantisipasi potensi perubahan politik, meskipun dalam skala terbatas," kata Joe Gilbert, manajer portofolio di Integrity Asset Management.
"Dengan valuasi yang tidak terlalu mahal dan sentimen pasar yang berada di level moderat, pasar memiliki sebagian besar faktor yang diperlukan untuk memicu reli pemulihan hingga akhir tahun."
Namun, secara historis, saham-saham cenderung menguat setelah pemilihan paruh waktu. Menurut Morgan Stanley, saham-saham berkapitalisasi besar (large-cap equities) telah mencatatkan kenaikan sekitar 15% berdasarkan pembobotan kapitalisasi pasar dan 16% berdasarkan pembobotan setara dalam enam bulan setelah pemilu paruh waktu sejak 1982.
Kedua ukuran tersebut masing-masing telah meningkat sekitar 22% dalam periode satu tahun setelah pemilu.
"Terlepas dari berbagai prediksi dan reaksi terhadap hasil pemilu malam ini, ada satu statistik utama yang perlu diingat: meskipun kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan, sejak 1950 atau selama 76 tahun, indeks S&P 500 tidak pernah mencatatkan posisi lebih rendah dalam 12 bulan setelah pemilihan paruh waktu. Itulah poin paling penting yang perlu diperhatikan klien," kata Tom Essaye, pendiri The Sevens Report.
UBS Securities menilai saham-saham AS berpotensi mengalami pemulihan menjelang akhir tahun, didukung faktor musiman yang menguntungkan dan rendahnya penempatan posisi (positioning) hedge fund. Kondisi tersebut dapat membuka jalan bagi reli setelah pemilu paruh waktu.
"Laporan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan hyperscaler jelas belum memberikan kepastian yang diharapkan investor. Namun, berakhirnya pemilu dapat menjadi katalis yang memicu reli menjelang akhir tahun," tulis Davide Montoni, kepala penjualan derivatif ekuitas institusional dan QIS UBS Securities untuk kawasan Amerika, dalam catatan kepada klien.
Kesenjangan kinerja di dalam pasar saham semakin tajam berdasarkan sejumlah indikator. Kondisi ini terlihat dari rotasi keluar dari saham teknologi yang membuat S&P 500 mencatatkan penurunan harian terburuk sejak Juni pada Jumat, sementara sektor-sektor defensif justru menguat.
Kini, indeks acuan saham tersebut berada pada level yang menunjukkan kondisi extreme oversold atau jenuh jual ekstrem. Namun, menurut Bespoke Investment Group, hampir separuh saham di dalam indeks tersebut justru berada dalam kondisi overbought atau jenuh beli.
Karena itu, tidak mengherankan jika indeks S&P 500 dengan pembobotan setara (equal-weighted) mengungguli indeks acuan utamanya sepanjang tahun ini. Indeks tersebut naik 4,9% pada Oktober, menjadi kinerja bulanan terbaik sejak April.
Meski demikian, penempatan posisi investor menunjukkan bahwa sikap berhati-hati mulai meningkat. Investor menambah posisi jual bersih (net new short positions) senilai US$9,6 miliar pada kontrak berjangka S&P 500 pekan lalu, sehingga total posisi kini mendekati netral, menurut para strategis Citigroup.
Kontrak berjangka Nasdaq menunjukkan tren serupa. Sementara itu, penempatan posisi pada kontrak berjangka Russell 2000 membaik, didorong oleh aksi penutupan posisi jual (short-covering). Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai mengurangi pandangan bearish terhadap saham-saham berkapitalisasi kecil di AS, menurut para strategis Citi yang dipimpin David Chew.
Kekhawatiran mengenai keberlanjutan belanja AI turut menambah kegelisahan pasar. Seiring perusahaan-perusahaan teknologi raksasa semakin mengandalkan pasar obligasi untuk membiayai investasi AI mereka, sejumlah manajer aset terbesar di dunia memperingatkan bahwa ledakan investasi tersebut berisiko berkembang menjadi bubble.
Chief Executive Officer Pacific Investment Management Co. Emmanuel Roman dan Chairman Bain Capital John Connaughton termasuk di antara investor yang menyoroti kemungkinan terjadinya penurunan pasar pada akhirnya setelah ekspansi sektor tersebut berlangsung sangat cepat. Hal ini terjadi meskipun para eksekutif Wall Street terus menekankan potensi jangka panjang teknologi AI.
Pada perdagangan saham individual, saham Palantir Technologies Inc. turun 1,7% setelah perusahaan perangkat lunak tersebut menerbitkan proyeksi kinerja kuartalan yang mengindikasikan potensi perlambatan pertumbuhan penjualan.
Sementara itu, saham Fiserv Inc. melonjak 12% setelah laba per saham perusahaan penyedia solusi teknologi keuangan (fintech) tersebut melampaui rata-rata estimasi analis.
Sektor Sorotan
- Saham bursa: Saham operator bursa Cboe, CME, dan ICE melemah setelah Michael Selig dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) mengumumkan bahwa kontrak berjangka perpetual atas saham individual, yang dikenal sebagai equity perps, untuk pertama kalinya dapat mulai diperdagangkan di bursa yang terdaftar di CFTC.
- Saham pertahanan: Saham-saham sektor pertahanan berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya pengaruh Partai Demokrat. Hasil pemilu dapat mendorong perubahan anggaran fiskal Pentagon 2027 agar kembali ke level 2026, sekaligus membatasi pertumbuhan belanja hingga 2028.
- Saham energi: Saham-saham energi melemah mengikuti penurunan harga minyak. Sektor-sektor yang sensitif terhadap harga minyak, termasuk perjalanan dan kapal pesiar, menjadi perhatian pada Selasa.
- Saham distribusi makanan: Saham-saham perusahaan distribusi makanan melemah setelah Sysco Corp. melaporkan laba per saham (EPS) dan pendapatan kuartal I yang berada di bawah estimasi. Perusahaan juga mengarahkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahun fiskal ke kisaran bawah dari target 6%-7%.
Perusahaan menyatakan bahwa kenaikan biaya bahan bakar turut membebani rantai pasokan. Saham Performance Food Group Co. dan US Foods Holding Corp. juga melemah.
(bbn)




























