Logo Bloomberg Technoz

Harga emas pada perdagangan Jumat (30/10/2026) ditutup di US$ 3.875,8/troy ons. Ini merupakan yang terendah dalam setahun terakhir.

“Kami melihat ada aksi dip buying di pasar. Investor, dan mungkin sejumlah bank sentral, sepertinya akan menambah kepemilikan emas mereka. Namun, emas masih berada dalam posisi rawan,” kata Justin Lin, Strategist di Global X ETFs, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Selain itu, perkembangan di Timur Tengah juga menjadi angin segar bagi emas. Bloomberg News memberitakan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa pemerintah sudah mendapatkan mandat dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk bernegosiasi demi mencapai perdamaian dengan Amerika Serikat (AS).

Kabar ini langsung membuat harga minyak anjlok. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup ambruk 8,17% ke US$ 104,17/barel.

Dinamika ini memunculkan harapan bahwa lonjakan harga energi bisa diredam. Dengan begitu, bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) tidak perlu terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

(aji)

No more pages