Pricing spread tersebut berada dalam kisaran penerbitan instrumen AT1 sejumlah bank di Asia pada 2026, yaitu sebesar 239-330 bps di atas imbal hasil US Treasury tenor 5 tahun.
Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi Pemerintah Republik Indonesia dalam US$ tenor 5 tahun tercatat sebesar 5,13% saat penetapan harga. Sementara itu, obligasi senior US$ Bank Mandiri sebesar 5,51%.
“Perbedaan tingkat imbal hasil ini mencerminkan karakteristik risiko AT1 yang bersifat subordinasi, tidak memiliki jatuh tempo serta memiliki mekanisme penyerapan kerugian, sehingga berbedar dari obligasi senior,” kata dia.
Adapun, perpetual bond bank milik BPI Danantara itu ditawarkan dan dijual kepada investor di luar wilayah Amerika Serikat dengan mengacung pada Regulation S berdasarkan US Securities Act of 1933 beserta perubahannya.
Surat utang abadi itu dicatatkan di Singapore Stock Exchange (SGX). Bank Mandiri menggaet The Hong Kong and Shanghai Banking Corporation LImited, J.P. Morgan Securities plc, Mandiri Securities Pte. Ltd dan Standard Chartered Bank sebagai joint lead managers dalam hajatan ini.
Tanggal 10 September 2031 menjadi periode first reset date, penyesuaian pertama tingkat distribusi, bukan tanggal jatuh tempo maupun kewajiban pelunasan.
Bank Mandiri memiliki hak, namun tidak berkewajiban, untuk melakukan pelunasan melalui opsi beli atau call option.
“Apabila opsi pelunasan tidak dilaksanakan, instrumen tetap berlaku dengan tingkat distribusi yang disesuaikan berdasarkan imbal hasil acuan US Treasury yang berlaku ditambah spread tetap sesuai ketentuan penerbitan,” kata dia.
Rasio Modal
Manajemen BMRI belakangan menjaga rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) pada kisaran 18%-19% setelah membagikan dividen interim sebesar Rp6,16 triliun pada 2 Oktober 2026.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita W. Anggraini mengatakan pembayaran dividen, baik dividen tahunan maupun interim, mempertimbangkan sejumlah aspek fundamental, termasuk ketahanan permodalan, likuiditas, serta kebutuhan perseroan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
Setelah pembayaran dividen interim tersebut, CAR Bank Mandiri tercatat sebesar 18,4%. Manajemen menilai tingkat permodalan tersebut masih terjaga dan memberikan ruang bagi perseroan untuk mengembangkan bisnis.
“Ke depan kami akan menjaga rasio CAR di level yang sehat, yaitu di kisaran 18%-19%,” ujar Novita dalam paparan publik Bank Mandiri, Jumat (23/10/2026)
Dia menjelaskan, rentang CAR tersebut ditujukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, profil risiko, dan kemampuan perseroan dalam membentuk modal. Dengan demikian, Bank Mandiri tetap dapat menangkap peluang bisnis sekaligus menjaga ketahanan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Di sisi lain, hingga September 2026, kredit Bank Mandiri secara bank-only tumbuh 16% secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 17,7%. Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasi perseroan mencapai Rp45,5 triliun, tumbuh 20,7% secara tahunan.
(naw)



























