Harga minyak mentah Brent anjlok lebih dari 8 persen menjadi sedikit di atas US$104 per barel ketika para pelaku pasar mencermati tanda-tanda kemajuan upaya untuk mengakhiri konflik. Penurunan ini terjadi sehari sebelum warga Amerika Serikat memberikan suara dalam pemilihan paruh waktu. Indeks dolar yang dihitung Bloomberg melemah, sementara obligasi pemerintah AS bertenor panjang mencatat kinerja lebih baik.
Meredanya ketegangan geopolitik menekan harga energi dan risiko inflasi. Namun, penurunan harga minyak mentah sejauh ini belum mampu menghidupkan kembali minat investor terhadap saham teknologi karena kekhawatiran mengenai belanja AI dan valuasi saham yang dinilai terlalu tinggi masih membayangi pasar.
“Harga minyak yang lebih rendah seharusnya menjadi angin segar bagi sektor teknologi. Namun, fakta bahwa saham-saham tidak mampu mempertahankan penguatan sejak pembukaan pasar, bahkan ketika harga minyak mentah anjlok, menunjukkan betapa tipisnya keyakinan investor setelah gejolak besar pekan lalu,” kata CEO Roundhill Financial, Dave Mazza.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahannya telah mendapat wewenang lebih besar dari pemimpin tertinggi negara itu untuk mengupayakan perundingan damai. Sementara itu, Donald Trump mengisyaratkan adanya kemajuan dalam negosiasi.
“Mereka ingin mencapai kesepakatan, dan itu bisa saja terjadi,” kata Trump kepada wartawan di Washington. Ia menambahkan, harga minyak turun karena “tampaknya semuanya berjalan sangat baik” dan “orang-orang sudah mengetahuinya”.
Beberapa saat kemudian, Trump menggelengkan kepala sambil mengucapkan “Tidak” ketika seorang wartawan berteriak menanyakan apakah ia akan kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada Selasa.
Kekhawatiran mengenai belanja AI juga menjadi sorotan ketika perusahaan-perusahaan teknologi besar kembali memasuki pasar obligasi AS untuk mendanai rencana investasi mereka. Setelah hampir tiga bulan tidak melakukan pinjaman melalui pasar tersebut, kini mereka kembali menerbitkan obligasi dalam jumlah besar.
Oracle Corp tengah menerbitkan obligasi senilai US$10 miliar, bersamaan dengan penerbitan saham dalam jumlah yang sama. Sementara itu, Meta Platforms Inc mempertimbangkan penerbitan obligasi senilai sedikitnya US$20 miliar dalam berbagai mata uang. Microsoft Corp pada Kamis menerbitkan obligasi senilai US$25 miliar, menjadi penawaran pertamanya di pasar AS sejak 2017. Adapun Alphabet Inc kembali menerbitkan surat utang di pasar obligasi Eropa pada Senin, untuk kedua kalinya sepanjang tahun ini.
Kalender ekonomi juga menghadirkan sejumlah faktor yang berpotensi menggerakkan pasar. Aktivitas manufaktur AS meningkat pada Oktober, didukung kenaikan produksi terkuat dalam hampir lima tahun. Sementara itu, investor menantikan serangkaian laporan pasar tenaga kerja.
Data lowongan pekerjaan AS yang akan dirilis pada Selasa diperkirakan menunjukkan jumlah lowongan sedikit meningkat pada September. Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran mingguan yang dirilis pada Kamis diperkirakan bertahan di dekat level terendah secara historis. Para ekonom memperkirakan laporan ketenagakerjaan pada Jumat akan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 65.000 pada Oktober, sedangkan tingkat pengangguran bertahan di 4,2 persen.
“Pasar akan menghadapi pekan yang sangat menarik,” kata Matt Maley dari Miller Tabak. “Kita harus mencermati persoalan politik sekaligus geopolitik. Selain itu, meningkatnya keraguan terhadap imbal hasil investasi AI kemungkinan akan jauh lebih berpengaruh dalam menentukan arah pasar ke depan dibandingkan pola historis.”
(bbn)



























