Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham infrastruktur menjadi pendorong utama IHSG melesat di zona hijau dengan kenaikan 2,11%, 1,52%, dan 1,41%. Sementara itu saham kesehatan mengalami pelemahan 0,64%.
Penguatan optimistis IHSG didorong saham LQ45 oleh menguatnya harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menanjak 11,28%, dan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang lompat 8,15%. Serta saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melesat 7,56%.
Adapun saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melaju 7,44% dan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga terangkat di zona hijau dengan kenaikan 6,2%. Serta saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menguat 6%, yang menopang tren rebound IHSG.
Mencermati Bursa Saham regional, IHSG berhasil bergabung dengan Bursa Asia yang melaju di zona penguatan, bersama KOSPI (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), KOSDAQ (Korea Selatan), SENSEX (India), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), dan KLCI (Malaysia), yang berhasil ditutup menguat.
Data Ekonomi RI Solid Jadi Sebab IHSG Menguat
Surplus Neraca Dagang
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan barang Indonesia, hasilnya berhasil mengalami surplus mencapai sebesar US$3,36 miliar pada September 2026.
Angka ini jauh lebih tinggi dari estimasi dan konsensus para ekonom dan analis yang memprediksi neraca dagang di posisi US$1,82 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan surplus neraca perdagangan September 2026 terutama disebabkan oleh komoditas nonmigas yang surplus US$5,67 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus pada nonmigas yaitu lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Terlebih berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia secara kumulatif pada periode Januari–September 2026 tercatat surplus US$10,61 miliar.
Sebelumnya, BPS melaporkan pada September 2026, total nilai impor Indonesia mencapai US$24,23 miliar atau naik 18,41% secara year–on–year (yoy). Angka tersebut lebih rendah bila dibanding konsensus analis yang mengestimasikan impor yang tumbuh mencapai 21% yoy.
Adapun nilai ekspor Indonesia pada bulan September 2026 ialah sebesar US$27,59 miliar, berhasil melesat 11,87% dibanding dengan September 2025 tahun lalu. Lebih tinggi dibanding dengan konsensus analis yang memproyelsolan ekspor Indonesia bakal tumbuh 6,67%yoy.
Inflasi Terjaga
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23% yoy. Inflasi tersebut pun berhasil berada di rentang target Bank Indonesia (BI).
BPS melaporkan laju inflasi pada Oktober 2026 tercatat 3,23% secara tahunan. Artinya, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.
Realisasi inflasi ini lebih rendah dibanding proyeksi konsensus yang mengestimasikan inflasi Oktober 2026 akan berada di level 3,25% yoy. Angka itu juga lebih rendah ketimbang realisasi inflasi pada September sebelumnya yang sebesar 3,28% yoy.
Berdasarkan data BPS, IHK pada Oktober mengalami inflasi secara bulanan terhadap September 2026, yaitu 0,22%. Sementara itu, inflasi dalam perhitungan tahun kalender (year–to–date/ytd) tercatat sebesar 2,4%.
Aktivitas Manufaktur RI Ekspansif
Aktivitas manufaktur Indonesia tangguh hingga terjadi peningkatan dibanding bulan sebelumnya, yang solid berada di zona ekspansi.
S&P Global mengumumkan aktivitas manufaktur Indonesia yang dicerminkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI), hasilnya PMI Indonesia berada di level 54. PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang ekspansif.
PMI Oktober juga lebih tinggi dibanding September sebelumnya yang sebesar 52,4. Capaian PMI ini turut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024, atau lebih dari dua tahun (31 bulan).
Indeks Pemesanan Baru (New Orders) juga melesat menuju level tertinggi dalam lima tahun. Ini membuat volume produksi meningkat ke posisi tertinggi sejak Maret 2024.
(fad)


























