"Ini bisa terjadi karena kontribusi secara aktif yang dilakukan oleh teman-teman pelaku usaha di sektor pertambangan. Untuk itu saya harus memberikan apresiasi, kalian semua adalah patriotik yang memberikan sumbangan pendapatan kepada negara," kata Bahlil.
Produksi Batu Bar
Dalam bahan paparan yang ditampilkan Bahlil, hingga saat ini realisasi produksi batub ara 2026 mencapai sekitar 566,74 juta ton atau setara 77% dari target.
Dari besaran tersebut, sekitar 186,45 juta ton batu bara disalurkan untuk domestic market obligation (DMO) sektor pembangkit batu bata tenaga uap (PLTU).
Sementara itu, sekitar 343,08 juta ton atau setara US$23,49 miliar diekspor ke sejumlah negara, termasuk China dan India.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan produksi batu bara Indonesia turun sekitar 8 juta metrik ton per bulan, namun setoran PNBP batu bara justru naik sekitar Rp1 triliun setiap bulannya.
Tri meyakini langkah pemangkasan produksi yang dilakukan pemerintah membuat harga batu bara menguat. Dia menilai hal tersebut tercermin dengan meningkatnya PNBP batu bara ketika produksi turun.
“Kalau misalnya dirata-rata itu kan kita turun rata-rata 8 jutaan lah per bulan, tetapi secara PNBP kita naik rata-rata RP 1 triliun. Kan yang bagus itu seperti yang disampaikan Pak Menteri itu, yang bagus itu kita jual banyak harga bagus,” kata Tri kepada awak media, di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026), malam.
“Itu paling ideal gitu. Namun, kalau pun enggak ideal, ya jangan ketika kita jual banyak harga jelek,” tegasnya.
Adapun, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat setoran PNBP dari komoditas nikel dan batu bara telah mencapai Rp87 triliun hingga 31 Agustus 2026.
Komoditas batu bara memberikan kontribusi sebesar Rp66 triliun, naik dari capaian periode sama sebelumnya sejumlah Rp59 triliun.
Sampai dengan akhir Agustus 2026, penerimaan dari seluruh subsektor tambang menembus angka total Rp108 triliun.
(azr/wdh)


























