Penguatan datang dari ekspor nonmigas yang tumbuh 12,39% yoy. Sementara, ekspor migas masih kontraksi 0,99% yoy.
Kinerja ekspor nonmigas ditopang oleh kenaikan nilai ekspor secara nominal dari komoditas lemak dan minyak hewani/nabati US$4,2 miliar atau 16,57%. Disusul nikel dan barang daripadanya yang bertambah US$3,15 miliar, atau 47,87%. Sebaliknya, ekspor logam mulai dan perhiasan/permata mengalami penurunan US$4,32 miliar atau 46,29%.
Sedangkan untuk September saja, pertumbuhan yoy beberapa komoditas utama, di antaranya sebagai berikut:
- Lemak dan minyak hewani/nabati: +89,04%
- Bahan bakar mineral: +11,99%
- Mesin dan perlengkapan elektrik: +24,37%
- Nikel dan barang yang mengandung nikel: +32,98%
- Berbagai produk kimia: +19,46%
Secara kumulatif, nilai ekspor mencapai US$221,23 miliar. Angka ini naik 5,58% dibandingkan US$209,55 miliar pada periode yang sama tahun lalu, dengan rincian:
- Non migas tumbuh 6,3%, jadi US$212,27 miliar dari US$199,69 miliar.
- Migas terkontraksi 9,11%, jadi 8,96 miliar dari tahun lalu US$9,86 miliar.
Pelemahan ekspor migas terutama disebabkan oleh:
- Ekspor minyak mentah turun 72,8% jadi US$324,9 juta
- Ekspor gas alam turun 10,13% jadi US$4,87 miliar
- Ekspor hasil minyak masih naik 15,98% jadi US$3,77 miliar.
Impor
Impor Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencapai US$210,63 miliar, naik 19,67% atau bertambah US$34,62 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Pertumbuhan impor ini bukan cuma berasal dari konsumsi masyarakat, tetapi juga kebutuhan bahan baku, barang penolong, dan barang modal. Jika dibandingkan dengan periode tahun lalu maka pertumbuhan impor sebagai berikut:
- Bahan baku penolong +21,11% yoy menjadi US$150,57 miliar.
- Barang modal +16,49% yoy, jadi US$41,55 miliar.
- Barang konsumsi +15,54% yoy jadi US$18,51 miliar.
Defisit Migas & Cadangan Devisa
Selain itu, adanya peningkatan impor migas turut menyumbang pelebaran defisit migas. Untuk diketahui, ekspor migas sepanjang Januari-September turun 9,11% jadi US$8,96 miliar. Sebaliknya impor migas justru naik 37,35% jadi US$32,57 miliar.
Naiknya impor migas terutama didorong oleh impor minyak mentah yang meningkat US$1,96 miliar atau 29,13%, dan impor hasil minyak meningkat US$6,9 miliar atau 40,61%.
Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 2,49% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, dari defisit tahun lalu hanya 0,09%.
Ia memprediksi pada 2027 defisit ini juga akan tetap tinggi di kisaran 2,49% terhadap PDB, seiring ketidakpastian global yang kemungkinan masih berlangsung setidaknya hingga semester I-2027.
"Pelebaran defisit transaksi berjalan ini diperkirakan akan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik, sikap hawkish Federal Reserve (The Fed), serta potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI," kata Faisal.
Ia menyebut, kombinasi pelebaran neraca transaksi berjalan dan potensi adanya arus keluar modal dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), dapat memberikan tekanan signifikan terhadap cadangan devisa.
"Kami memperkirakan cadangan devisa akan turun menjadi US$143-147 miliar pada akhir 2026, dari US$156,47 miliar pada akhir 2025. Tren penurunan itu diperkirakan berlanjut pada 2027, dengan cadangan devisa diproyeksikan tetap berada dalam tekanan di kisaran US$141-145 miliar," sebut Faisal.
(dsp/aji)



























