Logo Bloomberg Technoz

Bahlil juga meyakini sistem DSI bakal mengatasi persoalan ekspor SDA yang harus transit di negara lain tersebut.

“Bagus, kita dengan DSI koordinasi bagus, kita akan lewat satu pintu lewat DSI, dan tidak perlu lagi lewat transit-transit di mana; bisa langsung ke negara tujuan,” tutur Bahlil.

Adapun, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan ekspor produksi hilirisasi dari aluminium, produk olahan nikel, hingga komponen baterai litium sepanjang tahun ini dapat mencapai US$50 miliar atau setara dengan Rp899 triliun.

Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menjelaskan proyeksi ekspor dari produk hilirisasi mineral tersebut, jika terwujud, akan naik sekitar 45% dibandingkan dengan capaian 2024 senilai US$34,5 miliar atau setara Rp620 triliun.

“Hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan hilirisasi tadi komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar US$50 miliar atau naik hampir sekitar 45% dibandingkan dengan ekspor kita pada 2024,” kata Seto kepada awak media di Istana Negara, Selasa (20/10/2026).

Dalam kaitan itu, Seto mengungkapkan saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang memproduksi komponen baterai litium seperti anoda baterai dan katoda baterai.

Dia mengungkapkan Indonesia telah memiliki pabrik pengolahan litium, meskipun tidak memiliki bahan baku atau sumber daya litium.

“Jadi mungkin ini yang menjadi banyak pertanyaan dan kritik dari orang-orang juga terkait dengan hilirisasi di Indonesia. Sekarang Indonesia menjadi salah satu sumber produsen untuk komponen-komponen baterai litium seperti anoda, katoda baterai,” ujarnya.

“Bahkan kita juga sudah memiliki lithium refinery di mana sebenarnya sumber daya litiumnya kita tidak memiliki di Indonesia,” kata Seto.

Seto juga meramalkan ekspor produk aluminium Indonesia sepanjang 2026 bakal mencapai US$7,2 miliar atau setara dengan Rp129,54 triliun.

Seto menjelaskan hilirisasi aluminium di Indonesia sedang berkembang secara pesat, tidak hanya terjadi di komoditas nikel.

Dia memperkirakan ekspor produk aluminium Indonesia pada tahun ini mengalami lonjakan ke US7,2miliardarinilaiekspor2024sejumlahUS3,5 miliar.

Adapun, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi hilirisasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp179,9 triliun atau naik 19,4% secara year on year (yoy).

Hilirisasi bauksit tercatat menjadi penopang realisasi investasi hilirisasi kuartal III-2026 dengan besaran Rp61,9 triliun, lebih tinggi dari investasi hilirisasi nikel senilai Rp48 triliun.

Pada periode yang sama, realisasi investasi besi baja tercatat mencapai Rp10,5 triliun, realisasi investasi tembaga Rp2,1 triliun, emas dan perak Rp1,6 triliun, serta sektor mineral lainnya Rp4,5 triliun.

Secara umum, realisasi investasi hilirisasi mineral pada kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp128,6 triliun.

(azr/wdh)

No more pages