Bahlil menjelaskan proyek tersebut bakal digarap Rusal bersama perusahaan dalam negeri dan berlokasi di wilayah Kalimantan.
“Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina, dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).
Lantas, bagaimana rekam jejak rencana investasi Rusal di Indonesia?
Kerja Sama dengan Antam
Pada era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, tepatnya pada 2007, Rusal sempat meneken memorandum of cooperation dengan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam terkait dengan pengembangan tambang bauksit dan smelter aluminium.
Kesepakatan tersebut diteken pada 6 September 2006, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan resmi ke Indonesia.
Kala itu, kedua perusahaan berencana membentuk perusahaan patungan dengan komposisi saham 51% milik Rusal dan 49% dipegang Antam.
Rencananya, kedua perusahaan bakal mengembangan proyek tersebut memanfaatkan tambang bauksit Antam di Kalimantan Barat.
Sebenarnya proyek tersebut ditargetkan mulai menyusun penilaian teknis dan kajian keekonomian proyek pada 2008, kemudian keputusan investasi final atau final investment decision (FID) ditargetkan pada 2009 sehingga konstruksi dapat dimulai pada 2011.
Selain itu, Rusal dan Antam berencana untuk mempelajari peluang perluasan kerja sama dalam tenaga listrik dan produksi aluminium.
Kendati begitu, Rusal pada 2009 mengalami tantangan keuangan gegara krisis ekonomi global dan penurunan harga komoditas.
Dalam perkembangannya, Indonesia menerapkan aturan pelarangan ekspor bijih bauksit medio 2014. Berdekatan dengan itu, tepatnya pada 2013, Rusal sempat kembali menyatakan tetap berminat menggarap proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat.
MoU dengan Arbaya Energi
Tak hanya dengan Antam, pada 2014 Rusal sempat menken nota kesepahaman atau memorandum of undertstanding (MoU) dengan PT Arbaya Energi untuk menjajaki kerja sama pengembangan sumber daya dan investasi proyek infrastruktur.
Kedua perusahaan berencana melakukan kerja sama dalam eksplorasi dan penambangan bauksit terintegrasi dengan pabrik alumina di Kalimantan barat.
Serupa seperti rencana kerja sama dengan Antam, tak diketahui secara pasti kelanjutan rencana investasi Rusal bersama Arbaya Energi untuk membangun pabrik alumina terintegrasi tersebut.
Sekadar catatan, Rusal merupakan raksasa aluminiun yang berbasis di Rusia. Rusal menjalankan bisnis terintegrasi mulai dari penambangan bauksit, produksi alumina, hingga peleburan menjadi aluminium.
Pada 2025, Rusal memproduksi 3,91 juta metrik ton aluminium setara sekitar 5,3% produksi aluminium dunia. Produksi alumina mencapai 6,85 juta metrik ton, atau sekitar 4,7% produksi dunia.
N+ Group menjadi pemegang saham terbesar RUSAL dengan 56,88%, SUAL Partners menguasai 21,17%, dan sekitar 21,95% saham lainnya dimiliki pemegang saham lain.
Perusahaan tersebut terbentuk pada 2007 setelah penggabungan Rusal dengan SUAL dan aset alumina milik Glencore.
Di sisi lain, perseroan mengklaim lebih dari 90% aluminium yang diproduksi berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Dalam laporan keuangan 2025, Rusal tercatat memproduksi alumina sekitar 6,58 juta metrik ton yang berasal dari 11 fasilitas pengolahan di Rusia, Irlandia, Jamaika, Guinea, China dan India.
Selain itu, Rusal memiliki 7 tambang bauksit di Rusia, Guinea, Guyana dan Jamaika. Total cadangan bijih yang tercatat dalam laporan mencapai sekitar 1,89 miliar metrik ton.
Perseroan juga memiliki dua pabrik pengolahan silikon dengan kapasitas 53.000 metrik ton. Selain itu, Rusal memiliki 11 smelter aluminium premier.
Kemudian, terdapat 4 fasilitas pengolahan foil, 2 fasilitas pengolahan aluminium bubuk, dan 2 pabrik pelek roda berbahan aluminium.
(azr/wdh)





























