Untuk aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta mt dari total kapasitas produksi 1,98 juta mt. Smelter-smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta mt alumina per tahun.
Di sisi lain, berdasarkan penelusuran Bloomberg Technoz, saat ini terdapat 71 izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi bauksit yang dipegang 62 badan usaha dengan luas gabungan sekitar 685.413 hektare.
Berikut daftar perusahaan pemilik tambang bauksit besar di Indonesia:
Antam
Dalam bisnis bauksit, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam mengoperasikan tambang bauksit Tayan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, melalui Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Bauksit Kalimantan Barat.
Bijih bauksit dari tambang Tayan dipasok untuk memenuhi kebutuhan pabrik pengolahan Chemical Grade Alumina (CGA) milik PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), sekaligus dijual kepada pelanggan domestik lainnya.
Selain tambang Tayan, Antam juga memiliki sejumlah entitas yang tercatat memiliki aset atau kegiatan eksplorasi bauksit di Kalimantan Barat.
Dalam laporan perusahaan, entitas tersebut antara lain PT Borneo Edo International (BEI), PT Mega Citra Utama (MCU), PT Dwimitra Enggang Khatulistiwa (DEK), dan PT Gunung Kendaik (GK).
Dalam struktur kepemilikannya, PT Borneo Edo International, PT Mega Citra Utama, PT Dwimitra Enggang Khatulistiwa merupakan anak usaha yang sahamnya dimiliki langsung Antam masing-masing sebesar 100%.
Sementara itu, PT Gunung Kendaik merupakan anak usaha tidak langsung melalui PT Mega Citra Utama, dengan kepemilikan efektif Antam sebesar 100%.
Grup Harita
Grup Harita memiliki bisnis pertambangan bauksit melalui PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA).
Berdasarkan struktur pemegang saham per 31 Agustus 2026, PT Harita Jayaraya menguasai 60,46% saham CITA, sedangkan Glencore International Investment Ltd. memiliki 31,61% dan publik sebesar 7,93%.
CITA menjalankan kegiatan pertambangan bauksit melalui sejumlah anak usaha, antara lain PT Harita Prima Abadi Mineral (HPAM) dan PT Karya Utama Tambangjaya (KUTJ), yang masing-masing dimiliki sebesar 99,99%.
Selain kedua perusahaan tersebut, CITA memiliki kepemilikan saham sebesar 99,6% pada PT Sandai Karya Utama, PT Ketapang Karya Utama, PT Sandai Inti Jaya Tambang, PT Ketapang Karya Tambang, PT Labai Pertiwi Tambang, dan PT Megah Putra Jaya Tambang.
CITA juga memiliki kepemilikan saham sebesar 99,83% pada PT Duta Kemakmuran Jayaraya serta 99,96% pada PT Kemakmuran Surya Inti Perkasa.
Selain pertambangan, CITA memiliki 30% saham PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW), perusahaan pengolahan bauksit menjadi alumina di Ketapang, Kalimantan Barat.
Grup Indika
PT Indika Energy Tbk. (INDY) memiliki aset pertambangan bauksit melalui PT Mekko Metal Mining (MMM). Perusahaan tersebut mengantongi IUP operasi produksi di Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Berdasarkan laporan tahunan Indika Energy 2025, Mekko memiliki konsesi seluas 5.050 hektare, dengan sumber daya sekitar 30 juta ton dan cadangan 5,7 juta mt.
Perusahaan tersebut dilaporkan memiliki kapasitas produksi sebesar 500.000 ton per tahun, dengan masa berlaku IUP hingga 20 Mei 2032.
Mekko berada dalam jaringan usaha mineral Indika melalui PT Perkasa Investama Mineral (PIM).
Grup Gesit
PT Gesit Bumi Persada bagian dari Gesit Group memiliki saham pada sedikitnya dua perusahaan pemegang IUP bauksit, yakni PT Dinamika Sejahtera Mandiri dan PT Grahasejahtera Asri.
Pada Dinamika Sejahtera Mandiri, Gesit menguasai 70% saham, sedangkan 30% sisanya dimiliki PT Mitra Harapan Sakti. Perusahaan tersebut memiliki IUP bauksit seluas 11.310 hektare di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Sementara itu, Gesit menguasai 42% saham Grahasejahtera Asri. Dua pemegang saham lainnya adalah PT Sinar Energi Teguh sebesar 40% dan PT Mitra Harapan Sakti sebesar 18%. Grahasejahtera Asri memiliki IUP bauksit seluas 10.000 hektare di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Dinamika Sejahtera Mandiri juga memiliki keterkaitan dengan proyek pengolahan alumina melalui PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN).
Press Metal Aluminium Holdings melalui entitas anak menguasai 80% saham KAN, sedangkan PT Alakasa Alumina Refineri memiliki 19,77% dan Dinamika Sejahtera Mandiri sebesar 0,23%.
Dalam proyek tersebut, Dinamika Sejahtera Mandiri juga disebut sebagai pemasok bijih bauksit.
(wdh)






























