Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan yield itu menunjukkan tekanan tak cuma terjadi di pasar saham, menyusul sentimen risiko reklasifikasi Indonesia oleh MSCI. Ketidakpastian soal transparansi pasar, investibilitas, dan potensi perubahan status Indonesia dari emerging market jadi standalone market bisa mendorong investor asing meninjau ulang eksposur mereka terhadap aset Indonesia. 

Selain itu, menurut Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi, adanya ekspektasi Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate ke 6% pada November juga turut mengerek yield di pasar obligasi domestik. 

"Tampaknya, investor tengah melakukan priced-in atas risiko depresiasi rupiah akibat ancaman downgrade status ke standalone," sebut Lionel. 

Ia menambahkan, upaya BI yang melakukan intervensi di pasar belum cukup meyakinkan investor terhadap risiko depresiasi rupiah. 

Di tengah tekanan itu, persepsi investor juga diliputi oleh ekspektasi capaian data ekonomi domestik. Mulai dari inflasi, neraca perdagangan yang tercermin dari ekspor-impor, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik. 

Bloomberg Economics memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Berdasarkan konsensus, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 sebesar 5,17%. Melambat dari kuarta; sebelumnya sebesar 5,29%.

"Indikator aktivitas ekonomi menunjukkan tekanan yang lebih besar dari sektor keuangan, yang kemungkinan melemahkan investasi modal," sebut Bloomberg Economics dalam catatannya.

Sementara, konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan inflasi Indonesia pada Oktober sebesar 3,25% yoy. Angka ini lebih jinak dari perkiraan sebelumnya. Meski begitu, menjelang akhir tahun inflasi diperkirakan meningkat melampaui kisaran target Bank Indonesia (BI). 

Meski begitu, tekanan di pasar surat utang tak menandakan investor keluar secara bersamaan. Bahkan, sebagian investor domestik justru berpotensi mengalihkan dana dari saham ke pasar obligasi yang biasanya lebih defensif. 

Data yang dihimpun Bloomberg per 29 Oktober, investor memang membukukan aksi jual obligasi senilai US$95,1 juta secara mingguan, dan US$69,9 juta secara harian. Namun, sepanjang Oktober, investor masih mengakumulasi obligasi US$413,3 juta. 

Adapun sepanjang tahun (year-to-date/ytd) investor mencatat aksi beli sebesar US$1,97 miliar di pasar surat utang. 

(dsp/aji)

No more pages