Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.132/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
29 October 2026 15:56

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan dengan penguatan 0,28%, ke Rp18.132/US$. Sentimen eksternal yang mereda usai bank sentral Amerika Serikat (AS) menahan suku bunga acuannya memberi ruang penguatan bagi sebagian besar mata uang Asia. 

Rupiah sore ini menguat bersama won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Singapura, yuan offshore. Sebaliknya, dolar Taiwan melemah cukup tajam, disusul rupee India yang melemah terbatas bersama baht Thauland, dolar Hong Kong dan yen Jepang.

Rupiah dan mata uang Asia, Kamis (29/10/2026). (Bloomberg)

Penurunan yield di sebagian surat utang tenor pendek, yang jadi tanda adanya aksi beli, menopang laju rupiah sore ini. Yield 1 tahun terpangkas 5,2 basis poin (bps) ke 6,91%, diikuti tenor 1,4 bps ke 7,01%, dan tenor 5 tahun turun 5,3 bps ke 7,5%. Adapun, tenor 8 dan 9 tahun lebih terbatas, dan turun hanya 0,5 dan 0,9 bps ke 7,64%.


Begitu juga, yield surat utang RI berdenominasi dolar AS tenor 2 tahun turun 3,3 bps jadi 5,09%, dan tenor 10 tahun tutun 1,5 bps ke 6,03%. Namun begitu, Credit Default Swap (CDS) tetap bertahan di level 104,2. 

Gerak yield di pasar surat utang domestik sejalan dengan pasar obligasi global. Yield US Treasury terpangkas ke bawah 5%, tepatnya 4,9%. Sejalan dengan itu, yield obligasi Jepang juga ikut turun ke 2,8%, Australia turun 3,9 bps ke 5,16%, Selandia Baru turun 6 bps 4,85%, Korea Selatan turun 5,1 bps jadi 4,07%, lalu China 0,8 bps jadi 1,6%.