Logo Bloomberg Technoz

Dolar AS Landai, Rupiah dan Mata Uang Asia Bangkit

Tim Riset Bloomberg Technoz
29 October 2026 09:20

Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah buka perdagangan Kamis (29/10/2026) dengan penguatan 0,21%% ke Rp18.145/US$, menyusul dolar dan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang terpangkas. 

Melansir data realtime Bloomberg 09.10 WIB, indeks dolar AS konsolidasi ke kisaran 102,18 setelah The Fed menahan suku bunga acuannya, sesuai perkiraan pasar. Sedangkan, yield obligasi pemerintah AS, US Treasury ikut turun 1 basis poin (bps) ke 4,98%. 

Langkah The Fed yang menahan suku bunga acuan tanpa dibarengi sinyal kebijakan yang akan membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa The Fed tetap akan mengerek suku bunga acuan pada Desember nanti. 


Meski begitu, sinyal moneter AS yang belum terang itu menyisakan ruang bagi penguatan mata uang Asia. Won Korea Selatan berbalik arah dari perdagangan kemarin jadi menguat 0,71%, diikuti peso Filipina, rupiah, ringgit zmalaysia, baht Thailand, dolar Singapura, yen Jepang, yuan offshore dan dolar Hong Kong. Sedangkan, dolar Taiwan melemah. 

Rupiah dan mata uang Asia menguat. (Bloomberg)

Sementara, harga minyak juga sedikit terpangkas setelah pelaku pasar menangkap sinyal adanya upaya diplomatik baru di Timur Tengah untuk mencegah terjadinya serangan militer AS terhadap Iran. Brent turun 0,89% ke US$114,29/barel dan West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 0,79% jadi US$101,97/barel.