Rupiah Terus Anjlok, Ekonom Ingatkan Beban APBN Bisa Membengkak
Pramesti Regita Cindy
29 October 2026 13:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah yang tembus hingga bertahan di level Rp18.100/US$ bisa berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan tekanan fiskal suka tak suka akan semakin membesar ke segala arah.
"Pelemahan rupiah ke Rp18.183/US$ jelas menambah tekanan APBN, tetapi dampaknya tidak satu arah. APBN 2026 memakai asumsi kurs Rp16.500/US$, sehingga level saat ini sekitar 10% lebih lemah dari asumsi," kata Syafruddin kepada Bloomberg Technoz, Kamis (29/10/2026).
Terlebih menurutnya tekanan yang lebih cepat terasa berasal dari subsidi dan kompensasi energi. Pasalnya, minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), serta sebagian input energi lainnya dihargai dalam dolar AS.
Di samping itu, pembayaran pokok dan bunga utang dalam valuta asing juga menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah. Namun, dampak kenaikan beban utang tersebut tidak sepenuhnya diteruskan ke APBN karena pemerintah masih memprioritaskan pembiayaan domestik dalam rupiah.



























