Ini membuat harga emas genap naik dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terangkat 1,72%.
Aksi ‘serok’ di bawah atau bargain hunting sepertinya menjadi alasan mengapa harga emas bisa naik. Sebelumnya, harga aset ini sempat anjlok ke bawah US$ 4.000/troy ons pada 23 Oktober.
“Emas menemukan pijakan setelah sempat berada di bawah US$ 4.000/troy ons. Koreksi harga yang begitu tajam membuat emas kembali atraktif,” kata Ewa Manthey, Commodity Strategist di ING Bank, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan kabar dari AS. Kamis (29/10/2026) dini hari waktu Indonesia, The Fed akan mengumumkan hasil rapat Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC).
Berdasarkan CME FedWatch, peluang Gubernur Kevin Warsh dan kolega untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 4-4,25% hanya 6,6%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
(aji)





























