“Investasi perusahaan [yang tergabung dalam Champions of AI] pada para pekerja akan menjadi kunci untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara efektif,” ucap Yong. Para Champions of AI selanjutnya diharapkan membantu perusahaan lain dalam komitmen transformasi AI dengan berbagi pengalaman.
Yong menegaskan bahwa salah satu sektor berbasis AI yang difokuskan adalah manufaktur, di mana Singapura berambisi mampu mempercepat penemuan material baru sehingga dapat diaplikasikan ke berbagai bidang, dari semikonduktor hingga energi.
Guna mendukung misi tersebut, pemerintah Singapura meresmikan inisiatif Materials Accelerator for Research and Venture Enterprise Launch Pad atau MARVEL-AI, yang menginvestasikan US$150 juta (setara Rp2,7 miliar), dan dipimpin oleh A*STAR.
MARVEL-AI memiliki misi membangun platform terintegrasi, menggabungkan model AI dengan laboratorium otonom. Inisiatif ini selanjutnya menghubungkan para peneliti dengan perusahaan, sehingga pelaku di industri mendapatkan akses terhadap keahlian riset, infrastruktur, dan kapabilitas validasi yang dibutuhkan.
“Kami juga akan mengembangkan talenta dengan kemampuan pada bidang ilmu material, AI, dan otomatisasi, sehingga menghasilkan peluang kerja yang baik. Secara bersama-sama, langkah ini dapat memperdalam kapabilitas industri Singapura, mengembangkan sumber pertumbuhan baru, serta memperkuat posisi Singapura dalam inovasi material canggih,” pungkas Yong.
(wep)
































