Dalam kesempatan tersebut, Simon turut mengangkat konsep Nusantara in Harmony untuk menggambarkan pentingnya membangun keselarasan di tengah keberagaman negara-negara ASEAN. Ia mengibaratkan kolaborasi regional seperti sebuah orkestra, ketika setiap instrumen memainkan peran berbeda untuk menghasilkan harmoni.
“Hal yang sama berlaku bagi komunitas energi regional kita. Kekuatan kita bukan terletak pada upaya menjadikan setiap negara sama, melainkan pada kemampuan untuk mendorong setiap negara menyumbangkan keunggulan dan kapasitas uniknya demi mencapai tujuan bersama,” jelas Simon.
ASCOPE Jadi Wadah Kolaborasi Energi Regional
Simon menilai ASCOPE memiliki peran strategis dalam memperkuat hubungan antarinstitusi energi di kawasan Asia Tenggara. Selama lebih dari lima dekade, forum tersebut telah menjadi sarana pertukaran pengetahuan, berbagi pengalaman, serta pengembangan kerja sama untuk menghadapi tantangan industri energi.
Keberadaan ASCOPE juga membuka ruang bagi negara-negara anggota untuk membahas persoalan energi berdasarkan pengalaman dan kebutuhan masing-masing. Melalui komunikasi yang berkelanjutan, negara-negara di kawasan diharapkan dapat mengidentifikasi peluang sinergi dan merumuskan langkah yang mendukung ketahanan energi bersama.
Simon menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, anggota ASCOPE, dan para mitra yang terus memberikan dukungan terhadap penguatan kerja sama regional. Menurutnya, komitmen berbagai pihak menjadi modal penting untuk memastikan kolaborasi tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi sektor energi.
“Kepada rekan-rekan pemerintah, terima kasih atas arahan dan dukungan yang terus diberikan. Kepada sesama anggota ASCOPE dan para mitra, terima kasih telah hadir serta atas kepercayaan dan komitmen yang Anda berikan kepada komunitas ini.”
Selain membahas ketahanan energi secara regional, rangkaian ASCOPE juga menyoroti tantangan teknis dan operasional dalam pengelolaan aset hulu migas. Aspek tersebut menjadi perhatian karena industri perlu menjaga produktivitas lapangan yang sudah beroperasi sekaligus memastikan investasi baru tetap menarik.
ASCOPE Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin mengatakan, kolaborasi antarnegara diperlukan untuk mengoptimalkan pengelolaan aset hulu migas. Hal itu disampaikan dalam forum Exploration and Production Task Force (EPTF), yang mempertemukan pemangku kepentingan untuk membahas pengelolaan, pengaturan, dan perencanaan kegiatan hulu migas di negara-negara ASEAN.
Kolaborasi Dibutuhkan untuk Optimalkan Aset Migas
Henricus menjelaskan bahwa industri hulu migas menghadapi tantangan dalam mempertahankan produktivitas lapangan yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Pada saat yang sama, perusahaan perlu mendorong eksplorasi baru agar potensi sumber daya dapat dikembangkan dan keberlanjutan produksi tetap terjaga.
Pengelolaan aset yang telah beroperasi dalam waktu lama membutuhkan strategi yang tepat agar tetap efisien dan menarik bagi investor. Keputusan terkait pengembangan lapangan, pemeliharaan fasilitas, dan keberlanjutan produksi perlu didukung informasi yang memadai serta pengalaman operasional yang relevan.
Di sisi lain, industri juga harus mempersiapkan pengakhiran masa operasi aset migas. Proses tersebut, termasuk pembongkaran fasilitas, memerlukan perencanaan yang matang agar dapat dilaksanakan secara aman, bertanggung jawab, dan efisien dari sisi biaya.
Menurut Henricus, tantangan tersebut tidak hanya dihadapi oleh satu negara, tetapi menjadi persoalan bersama di kawasan. Karena itu, pertukaran data, bukti, dan pengalaman antaranggota ASCOPE dinilai dapat membantu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam pengelolaan aset masing-masing.
“Dengan berbagi bukti, data, dan pengalaman di lingkungan ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait aset masing-masing serta mengubah pengetahuan di tingkat regional menjadi hasil yang nyata,” ujar Henricus.
Melalui forum EPTF, para peserta memiliki kesempatan untuk membahas tantangan operasional yang dihadapi industri hulu migas. Diskusi tersebut juga menjadi ruang untuk mengajukan pertanyaan kritis, membandingkan pengalaman antarnegara, serta membangun jejaring profesional yang dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan industri.
Pertukaran pengetahuan menjadi penting karena kondisi aset migas di setiap negara tidak selalu sama. Perbedaan karakteristik lapangan, tingkat kematangan produksi, kebutuhan investasi, dan kebijakan pengelolaan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Dengan memanfaatkan pengalaman regional, negara-negara anggota dapat memperluas perspektif dalam menentukan strategi pengelolaan aset. Kolaborasi juga berpotensi membantu mengidentifikasi praktik yang relevan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menjaga produktivitas, dan memperpanjang masa manfaat aset yang masih ekonomis.
Sinergi Regional untuk Keberlanjutan Energi
Henricus berharap ASCOPE dapat terus memperkuat kolaborasi dan menghasilkan langkah konkret untuk menjawab tantangan industri migas. Pertukaran informasi dan pengalaman diharapkan mampu mendukung optimalisasi aset, mendorong investasi, serta memperkuat keberlanjutan sektor energi di kawasan Asia Tenggara.
Upaya tersebut sejalan dengan kebutuhan negara-negara ASEAN untuk menjaga ketersediaan energi di tengah perubahan kondisi industri dan dinamika ekonomi global. Pengelolaan aset yang efektif serta investasi yang berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan pasokan energi untuk memenuhi kebutuhan kawasan.
Melalui rangkaian agenda 51st ASCOPE, para pemangku kepentingan energi ASEAN diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan memperluas kerja sama dalam menghadapi tantangan bersama. Sinergi yang dibangun diharapkan menghasilkan manfaat nyata bagi pengelolaan aset migas, pengembangan investasi, dan keberlanjutan pasokan energi bagi generasi mendatang.
(rrs/RAD)





























