Berdasarkan data harian AAA yang dirilis pada Senin (26/10/2026), angka ini melampaui rata-rata harga di bawah pemerintahan mantan Presiden Joe Biden—yang tercatat sebesar US$3,471/galon—dengan selisih kurang dari satu sen.
Harga bensin melonjak tahun ini menyusul pecahnya perang yang melibatkan AS dan Israel di Iran, yang melumpuhkan arus minyak serta semakin menekan kapasitas penyulingan global.
Selama delapan bulan terakhir, rata-rata harga bensin di SPBU AS telah naik 43%, sementara harga solar melonjak hampir 70% hingga mencapai rekor tertinggi yang pernah tercatat.
Isu ini menjadi titik krusial bagi Partai Republik—partai asal Trump—dalam pemilihan paruh waktu, mengingat para pemilih yang sudah terbebani oleh inflasi kini semakin terhimpit oleh tingginya harga energi.
Masyarakat Amerika belum pernah membayar harga bahan bakar semahal ini pada periode akhir tahun seperti saat ini; menurut AAA, rata-rata harga nasional mencapai US$4,286/galon hingga Minggu.
Meski demikian, Biden masih memegang rekor harga bensin nasional tertinggi, yakni US$5,02/galon yang terjadi pada Juni 2022, beberapa bulan setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Pasar global kini kekurangan pasokan bensin sekitar 400.000 barel per hari (bph) yang biasanya diekspor dari Timur Tengah, ujar Susan Bell, Wakil Presiden Senior Bidang Hilir di Rystad Energy.
Biaya bahan bakar solar menjadi fokus utama kubu Trump dalam beberapa minggu menjelang pemilihan sela, dengan harga yang sempat mencapai rekor tertinggi sebesar US$6,53/galon bulan lalu.
Rata-rata harga solar pada masa pemerintahan Trump tercatat sekitar 6% lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga semasa pemerintahan Biden.
Harga bahan bakar telah menjadi sasaran kritik tajam terhadap kubu Trump, karena kenaikan harga yang pesat tahun ini memperparah krisis biaya hidup—masalah yang dianggap sebagai kekhawatiran utama oleh para pemilih.
Hal ini juga mencerminkan janji Trump yang tidak ditepati, mengingat ia sebelumnya terus-menerus menyerang Biden terkait tingginya harga bahan bakar di SPBU selama masa Pemilihan Presiden 2024.
Trump berulang kali mengatakan bahwa harga bensin dan diesel akan turun setelah perang dengan Iran berakhir, namun konflik tersebut justru tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dalam sebuah kampanye akhir pekan ini, Trump memuji bagaimana perusahaan-perusahaan minyak AS telah menyumbangkan “ratusan miliar dolar” bagi negara.
“‘Presiden Trump bicara soal banyaknya uang yang mereka hasilkan sementara masyarakat menderita saat membeli bahan bakar—itu pasti akan jadi berita utama,’” ujarnya.
“Saya tidak peduli. Saya akan katakan saja: kita sedang meraup keuntungan yang sangat besar.”
Tingginya biaya energi mengancam mengubah wilayah-wilayah yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik (wilayah “merah”) menjadi negara bagian yang suaranya bisa beralih (swing states).
Kansas, Iowa, Ohio, Texas, dan Alaska—wilayah yang dimenangkan Trump dengan selisih dua digit pada tahun 2024—kini dianggap sebagai wilayah dengan persaingan ketat untuk pemilihan Senat menurut Cook Political Report, sebuah lembaga nonpartisan yang memprediksi hasil pemilu.
Menurut James West, direktur pelaksana di Melius Research LLC, rumah tangga di negara-negara bagian tersebut—kecuali Texas—mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk biaya energi dibandingkan rata-rata rumah tangga di AS.
Para pemilih kemungkinan besar akan membandingkan harga bahan bakar saat ini dengan tingkat harga yang dijanjikan oleh Trump—yaitu harga sebelum pandemi yang secara konsisten berada di bawah US$3/galon, ujar Ryan Cummings, kepala staf di Institute for Economic Policy Research, Universitas Stanford.
Cummings juga merupakan mantan ekonom staf di Council of Economic Advisers pada masa pemerintahan Biden, di mana ia sempat menangani kebijakan terkait bahan bakar minyak.
“Pada dasarnya, yang mereka bandingkan adalah selisih harga sebesar US$1,50,” kata Cummings.
Pemerintahan Trump telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak gangguan pasokan bahan bakar akibat perang yang melibatkan Iran, termasuk langkah kontroversial seperti kesepakatan impor solar dari Rusia.
Namun, para ahli menilai kesepakatan tersebut terlalu terbatas untuk dapat memberikan pengaruh berarti terhadap harga di SPBU menjelang pemilu sela pada November.
Pada Kamis, Pemerintah AS juga menggunakan wewenang masa perang untuk meningkatkan produksi bahan bakar di Amerika Serikat; Departemen Energi pada Jumat mengumumkan alokasi dana sebanyak US$150 juta untuk investasi di kilang-kilang minyak.
Salah satu perusahaan penyulingan minyak terbesar di AS, Valero Energy Corp., menyatakan pekan lalu bahwa upaya terbaru Trump untuk menekan harga di SPBU hanya akan memberikan dampak minim.
Gary Simmons, Chief Operating Officer perusahaan tersebut, mengatakan bahwa volume pengiriman solar dari Rusia tidaklah signifikan. CEO Valero, Lane Riggs, menambahkan bahwa rencana Trump untuk meningkatkan produksi di dalam negeri tidak akan membuahkan hasil dalam waktu dekat.
“Hampir semua kilang yang telah ditutup akan membutuhkan waktu untuk beroperasi kembali, sehingga akan sangat sulit bagi kilang-kilang tersebut untuk membantu mengatasi situasi saat ini,” ujar Riggs.
“Anggapan bahwa ada kilang-kilang yang bisa langsung diaktifkan begitu saja—seperti menyalakan sakelar lampu—sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.”
(bbn)


























