Kemudian saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) drop 3,52%, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terpangkas 2,22%, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terpeleset 1,95%, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) melemah 1,91%, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tertekan 1,54%, dan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) turun 1,49%.
Pelemahan IHSG pada siang ini dipengaruhi oleh sentimen Federal Funds Rate decision di mana mayoritas pelaku pasar memprediksi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan tetap 3,75%–4,00% setelah mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Keputusan ini belum tentu menjadi sinyal pelonggaran kebijakan moneter, mengingat inflasi AS mencapai 3,7% secara tahunan pada September, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kenaikan harga energi, terutama akibat konflik AS-Iran, turut memperbesar risiko tekanan inflasi.
Terlebih lagi, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut, keputusan untuk menahan suku bunga ini dipengaruhi oleh pertimbangan momentum politik menjelang pemilu sela (midterm–elections) AS pada 3 November 2026. Dengan demikian, fokus investor bukan hanya pada keputusan suku bunga Oktober, melainkan juga pada indikasi kebijakan moneter selanjutnya, terutama kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Sentimen MSCI dan reformasi pasar modal, hingga usulan reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market juga masih membayangi kepercayaan investor. Namun, langkah BEI memperkuat pengawasan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dan mempertahankan transparansi perdagangan dapat menjadi katalis pemulihan apabila implementasinya kredibel. FTSE Russell juga tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market, di mana hal ini memberikan fondasi kepercayaan sekunder.
“Jika reformasi regulasi dan transparansi transaksi dieksekusi secara kredibel dan konsisten, risiko capital outflow dapat teredam dan memicu pemulihan kepercayaan investor jangka panjang,” terang Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya per hari ini, Selasa (27/10/2026).
Pasar juga cenderung berhati–hati terhadap indikator risiko, mencermati stabilitas nilai tukar rupiah tak cuma bergantung pada instrumen intervensi yang variatif, tapi juga seberapa besar imbal hasil aset domestik bisa mengompensasi risiko yang dihadapi investor.
Untuk diketahui, Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun RI kembali tinggi di posisi 108,7 yang mengindikasikan premi risiko berinvestasi di instrumen obligasi pemerintah Indonesia semakin meningkat. Kenaikan CDS jadi cerminan– biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar (default risk) Indonesia bertambah.
(fad)

























