Hadi memandang GRR Tuban merupakan kilang yang strategis untuk mendukung target swasembada energi, sebab kapasitas pengolahannya mencapai 300.000 barel per hari (bph).
Alarm Serius
Dihubungi terpisah, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria meyakini memburuknya kinerja keuangan Rosneft akibat perang Ukraina dan sanksi negara Barat harus menjadi alarm serius bagi kelanjutan proyek GRR Tuban.
Dia khawatir kemampuan pendanaan Rosneft untuk proyek tersebut menjadi terganggu, jika kondisi keuangannya terus tertekan.
Dia juga menegaskan tahap pratender bukan bukti pembangunan segera dimulai, yang menentukan adalah kepastian investasi, pendanaan, dan jadwal produksi.
“Pemerintah harus segera meminta komitmen tertulis Rosneft, termasuk bukti kesiapan pendanaan dan tenggat yang terukur. Jika komitmen tersebut tidak terpenuhi, pemerintah harus berani mengevaluasi skema investasi dan membuka peluang bagi investor lain,” kata Sofyano kepada Bloomberg Technoz.
Sebelumnya, PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) resmi membuka prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban.
Berdasarkan pengumuman yang dilihat Bloomberg Technoz, anak usaha Pertamina tersebut bakal membuka dua paket pekerjaan yakni kilang I GRR Tuban dengan nomor BS-001/PRPP-310/2026-S0 dan kilang II GRR Tuban dengan nomor BS-002/PRPP-310/2026-S0.
Prakualifikasi dibuka bagi perusahaan nasional maupun asing, baik perusahaan tunggal maupun konsorsium, joint venture (JV), dan joint operation (JO).
Untuk perusahaan berbentuk konsorsium, PRPP mensyaratkan keterlibatan minimal satu perusahaan nasional.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth MV Dumatubun menyatakan proses final investment decision (FID) masih berlangsung, tetapi dia belum mengungkapkan target atau tenggat keputusan investasi final Rosneft di GRR Tuban.
“Untuk FID Proyek GRR Tuban saat ini masih dalam proses,” kata Roberth kepada Bloomberg Technoz, Jumat (8/5/2026).
Lebih lanjut, Roberth menjelaskan pembukaan prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban dilakukan untuk menjaring kontraktor potensial.
Dia menyebut kontraktor yang masuk dalam kualifikasi nantinya dapat mengikuti tender EPCC untuk mendukung eksekusi proyek Kilang Tuban.
Nilai proyek GRR Tuban diprediksi mencapai US$24 miliar dan dirancang untuk memiliki kapasitas olahan minyak mentah 300.000 bph.
Pertamina lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), memegang 55% saham PRPP, sedangkan 45% saham lainnya dikuasai Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).
Sebagai informasi, kondisi keuangan Rosneft dikabarkan kian memburuk. Laba perusahaan merosot sementara utang terus membengkak, padahal seharusnya ada keuntungan tak terduga yang bisa diraih.
Kerugian finansial pun makin meningkat. Laba bersih Rosneft pada semester I-2026 turun hampir seperlima menjadi 200 miliar rubel (US$2,4 miliar).
Rasio utang bersih terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi meningkat menjadi 1,8 kali lipat pada akhir Juni, yang tertinggi dalam lebih dari lima tahun, menurut laporan triwulanan sejak 2020, meskipun tiga laporan pada periode tersebut tidak mengungkapkan rasio tersebut, sehingga membuat estimasi ukuran dan cakupan pastinya menjadi lebih sulit.
Menurut data Bloomberg—yang dihimpun berdasarkan pernyataan resmi dari kedua negara—sepanjang tahun ini, pesawat nirawak Ukraina telah melancarkan setidaknya 114 serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia; jumlah ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Serangan-serangan tersebut telah menyebabkan tingkat operasional kilang minyak Rusia merosot ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, memicu kelangkaan bahan bakar, dan memaksa Moskwa untuk membatasi ekspor bensin, solar, serta bahan bakar jet alias avtur.
Rosneft menanggung sebagian besar dampak kerusakan tersebut. Perusahaan ini mengoperasikan 12 kilang yang mencakup sekitar sepertiga dari total kapasitas pengolahan minyak Rusia.
Menurut catatan Bloomberg, dari 15 serangan pesawat nirawak yang terkonfirmasi terhadap fasilitas pengolahan minyak di Rusia pada September, lima di antaranya menyasar fasilitas utama milik Rosneft yang memasok bahan bakar ke wilayah Rusia bagian Eropa—kawasan dengan tingkat konsumsi terbesar.
Kerusakan menjadi jauh lebih sulit diperbaiki ketika serangan menghantam unit-unit sekunder yang kompleks—seperti unitcatalytic cracker, reformer, dan hydrocracker—yang suku cadangnya sebelumnya dipasok dari negara-negara Barat.
Sanksi memperparah masalah dengan membatasi akses terhadap peralatan pengganti, sehingga memaksa Rosneft untuk mengandalkan tiruan buatan Rusia serta produk impor dari China—yang sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diperoleh dan tidak selalu kompatibel dengan mesin yang sudah ada—ungkap pihak-pihak yang memahami masalah ini.
Secara lebih luas, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyatakan serangan pesawat nirawak terhadap kilang-kilang minyak Rusia menimbulkan “dampak negatif yang bersifat akumulatif.”
Pada September, badan tersebut menurunkan proyeksi volume pengolahan minyak Rusia untuk 18 bulan ke depan menjadi sekitar 4 juta barel per hari, atau sekitar 30% di bawah tingkat sebelum perang.
(azr/wdh)































