Logo Bloomberg Technoz

Penurunan nilai yang dimenangkan pemerintah menggambarkan adanya sikap selektif dalam penyerap penawaran yang masuk.

Pada SPNS12042027, misalnya, penawaran memang meningkat tajam dari Rp3,88 triliun menjadi Rp6,02 triliun atau naik 54,88%. Pemerintah merespons dengan meningkatkan nominal yang dimenangkan dari Rp1,8 triliun menjadi Rp2,65 triliun. 

Mengapa? Ini karena yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan relatif rendah, turun dari 6,5% menjadi 6,45%. Permintaan investor yang cukup besar menawarkan imbal hasil lebih menarik bagi pemerintah, sehingga penyerapan bisa ditingkatkan. 

Sebaliknya, pada seri SPNS07062027, penawaran naik tipis dari Rp4,84 triliun menjadi Rp5 triliun. Akan tetapi, pemerintah justru memangkas nominal yang dimenangkan dari Rp2 triliun jadi hanya Rp1 triliun. Sebab, yield pada seri ini tetap dibanderol 6,5% seperti lelang sebelumnya. 

Sikap selektif pemerintah semakin nyata pada seri dengan tenor lebih panjang. Pada seri PBS030 tenor 2 tahun, penawaran turun 14,44% jadi Rp2,63 triliun. Namun pemerintah justru meningkatkan penyerapan jadi Rp1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,35 triliun sehingga yield terkerek naik dari 6,73% menjadi 6,8%. 

Sementara untuk PBS034 tenor 13 tahun, penawaran turun cukup tajam menjadi Rp2,43 triliun dari Rp4,21 triliun. Pemerintah juga memangkas penyerapan dari Rp2,15 triliun menjadi Rp600 miliar. Pada saat yang sama, yield ikut naik menjadi 7,2% dari 7,15%. 

Tekanan paling besar terjadi pada seri PBS038 dengan tenor 23 tahun, yang mencatat penurunan penawaran dari Rp2,98 triliun menjadi Rp2,34 triliun. Bahkan, nilai yang dimenangkan pemerintah ikut anjlok dari Rp1,55 triliun menjadi hanya Rp200 triliun. Pada seri ini, yield terkerek naik menjadi 7,21% dari sebelumnya 7,18%. 

Hal ini menggambarkan sikap selektif pemerintah khususnya pada tenor panjang. Pemerintah terlihat berhati-hti dalam menerima penawaran yang masuk di tenor panjang, terutama jika investor meminta yield yang lebih tinggi. 

Agaknya, pemerintah berupaya untuk menjaga biaya utang. Tantangan pemerintah saat ini bukan hanya mencari investor yang mau menyimpan dananya pada aset rupiah. Lebih dari itu, pemerintah juga ingin memastikan agar dana yang diperoleh tidak harus dibayar dengan biaya yang terlalu mahal. 

Bukan tanpa sebab. Lelang sukuk kali ini terjadi dalam lingkungan eksternal yang kurang kondusif. Saat lelang berlangsung, yield US Treasury melonjak hingga ke 5,3%, diikuti dengan kenaikan yield di pasar obligasi global. 

Berikut hasil lelang sukuk:

Hasil lelang sukuk 6 Oktober 2026. (DJPPR)

(dsp/aji)

No more pages