Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan di kedua pasar yang tidak senada ini menunjukkan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati terhadap risiko durasi. 

Sementara itu, tekanan di pasar obligasi global kembali datang usai sempat mereda. Penurunan yield US Treasury terpangkas dari 2,5 basis poin (bps) menjadi 0,6 bps, sehingga yield yang awalnya 5,27% terkerek jadi 5,29%.

Namun, yield di pasar obligasi AS yang masih relatif lebih rendah daripada kemarin diikuti oleh negara lainnya. Seperti yield obligasi Italia turun 9,8 bps jadi 4,52%, Prancis turun 10,9 bps jadi 4,74%, Australia turun 2,4 bps jadi 5,37% dan Selandia Baru turun 2,3 bps ke 5,07%.

Adapun, di pasar obligasi Asia relatif stabil. Yield obligasi China stagnan di 1,67%, begitu juga Singapura 2,46%, dan Malaysia 3,93%.

Namun, obligasi Filipina ikut mengalami penurunan yield sebesar 3,3 bps ke 7,48%. Sementara di pasar obligasi Indonesia, tekanan terjadi pada tenor panjang. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik 2 bps ke 7,21%. 

Mata uang Asia. (Bloomberg)

Dari dalam negeri, proyeksi Bank Dunia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berpotensi sebesar 5,2%, naik dari proyeksi sebelumnya 4,7%. Namun, lembaga ini juga memperingatkan terkait tekanan fiskal yang mungkin terjadi.

Sebab, besarnya ekspansi fiskal pada lima bulan pertama tahun 2026 terlihat dari belanja pemerintah yang tumbuh 34% secara tahunan, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan negara yang sebesar 19%. 

Belanja yang lebih agresif itu terutama didorong oleh program MBG, pembayaran kompensasi energi yang dilakukan lebih cepat, front-loading belanja pemerintah, serta meningkatnya tekanan subsidi energi. Kemenkeu mencatat realisasi subsidi dan kompensasi Rp331,4 triliun atau setara dengan 74,2% dari APBN, hingga 31 Agustus 2026. 

Dalam catatan Bank Dunia, belanja pemerintah telah mencapai 36% dari pagu awal APBN pada lima bulan pertama 2026, sekitar 8 poin persentase lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu.

Menurut Bank Dunia, percepatan ini memang dapat menopang pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi sekaligus meningkatkan risiko tekanan anggaran pada paruh kedua tahun 2026. 

Di sisi lain, pelaku pasar akan mencermati posisi cadangan devisa yang akan rilis hari ini di tengah tekanan eksternal yang menguat satu bulan terakhir. Cadangan devisa sebelumnya sebesar US$146,5 miliar, cukup untuk membiayai pembayaran utang dan impor selama 5,5 bulan. 

Di tengah berbagai faktor tekanan dan sentimen yang saling berkelindan, rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp17.850-17.950/US$.

Analisis Teknikal

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berisiko melemah, dengan pelemahan terdekat menuju level Rp17.950/US$. Target pelemahan kedua harus kembali tertahan di level Rp18.000/US$ yang merupakan support psikologisnya.

Analisis Teknikal Rupiah Rabu 7 Oktober 2026 (Sumber: Bloomberg)

Jika nantinya nilai tukar rupiah lanjut melemah, maka masih ada kemungkinan untuk menuju Rp18.100/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya pada perspektif harian (daily time frame) menjadi resistance potensial di level Rp17.800/US$ yang merupakan sMA-50 nya. Kemudian target penguatan lanjutan ada di Rp17.700/US$.

(riset/aji)

No more pages