Rupiah dihadapkan pada tekanan ganda, lantaran menguatnya dolar AS merembet pada pasar obligasi atau surat utang negara. Pada perdagangan hari ini, pasar surat utang bergerak sideways dengan kecenderungan bearish. Sebagian besar tenor mencatat kenaikan yield.
Data Bloomberg menunjukkan, yield surat utang tenor 10 tahun naik 2,3 bps jadi 7,19%. Kenaikan yield pada tenor acuan ini menandakan bahwa investor masih meminta premi yang lebih tinggi untuk memegang aset rupiah di tengah ketidakpastian global.
Pergerakan di pasar surat utang juga menunjukkan bahwa koreksi rupiah tak cuma dipicu oleh harga minyak. Bahkan ketika minyak sedikit terpangkas, rupiah tetap tertekan bersama sebagian mata uang Asia lainnya.
Artinya, faktor eksternal lainya seperti tingginya yield US Treasury, penguatan dolar AS, dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang masih jadi penentu pergerakan di pasar valuta asing hari ini.
Di sisi lain, investor juga mencermati data inflasi di kawasan. Sebab, kenaikan harga pangan dan energi berpotensi mempersempit ruang pelonggaran oleh bank sentral jika tekanan terus berlangsung.
Selain itu, Bloomberg memperkirakan fenomena El Nino menambah lapisan risiko baru. Kekeringan yang menggaanggu produksi pangan dan mendorong harga komoditas pertanian, dan menekan laju inflasi dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga.
Jika tekanan inflasi terjadi secara persisten, maka ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) juga dapat berubah. Pasar agaknya tak cuma memperhitungkan perkembangan inflasi domestik yang sudah meninggi, tetapi juga seberapa besar ruang yang dimiliki BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah kala tekanan eksternal kian persisten.
Selama yield US Treasury bertahan tinggi, diikuti dengan penguatan dolar AS, serta adanya risiko inflasi dari kelompok pangan, serta tingginya biaya energi, maka ruang penguatan rupiah sepertinya masih akan terbatas.
Belum lagi, pelaku pasar akan mencermati terkait persepsi masyarakat terkait kondisi ekonomi yang biasanya memengaruhi perilaku belanjanya. Persepsi tersebut akan tergambar pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang akan rilis pekan ini.
IKK Agustus secara agregat memang naik dari 116,8 pada Juli menjadi 118,5. Namun jika dirinci, maka kenaikan indeks keyakinan itu belum merata.
Data IKK menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi berkorelasi kuat dengan tingkat keyakinan konsumen. Semakin besar ruang finansial untuk berbelanja, semakin tinggi pula keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi: konsumen paling mapan menjadi kelompok yang paling yakin dengan kondisi ekonomi.
Pada kelompok pengeluaran paling rendah, yakni Rp1-2 juta, IKK memang masih berada di zona optimistis dengan skor 108,2. Namun Indeks Keyakinan Ekonomi (IKE) kelompok ini hanya 95, atau masih berada di bawah ambang optimistis 100. Artinya, kelompok pengeluaran Rp1-2 juta belum merasa kondisi ekonomi saat ini sepenuhnya membaik.
Data IKK pekan ini menjadi indikator yang akan dicermati pelaku pasar. Bukan sekadar untuk melihat seberapa optimis masyarakat terhadap perekonomian, tapi juga mengukur apakah tekanan inflasi mulai memengaruhi daya beli dan perilaku konsumsi.
(dsp/aji)





























