Logo Bloomberg Technoz

Menerka Arah Rupiah Hingga Akhir 2026, Bisa Tembus Rp18.000/US$?

Redaksi
05 October 2026 09:15

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kinerja rupiah pada kuartal IV-2026 masih akan menghadapi jalan terjal, lantaran harga minyak yang meninggi akibat ketidakpastian terkait resolusi konflik di Timur Tengah, disertai kenaikan yield US Treasury karena kekhawatiran terhadap inflasi. 

Rupiah memang sempat menguat ke Rp17.870/US$ pada perdagangan akhir pekan lalu. Namun, penguatan yang sempat terjadi pekan lalu belum cukup untuk mengubah lanskap tekanan terhadap mata uang Garuda. 

Dari sisi eksternal, yield US Treasury menanjak ke 5,24%, berada di level tertinggi sejak 2002, sebagai respons pasar atas kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi langkah hawkish oleh bank sentral AS, Federeal Reserve (The Fed). Kenaikan yield US Treasury ini diikuti dengan volatilitas pasar obligasi global yang masih tinggi. 


Tekanan ini menjadikan imbal hasil aset AS menjadi kian menarik dan membuat investor meningkatkan preferensi mereka terhadap dolar AS dan mengurangi eksposur pada aset di negara berkembang, termasuk rupiah. 

Kala yield US Treasury kembali tinggi, dan terjadi bersamaan dengan tingginya harga minyak di atas level US$100/barel, kinerja rupiah berpotensi menghadapi tekanan ganda, lantaran kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi dan berpotensi menggerus cadangan devisa.