Logo Bloomberg Technoz

Saham Pepet Gocap, NAYZ Banting Setir Usai Disuntik Rp2 T

Sabrina Mulia Rhamadanty
05 October 2026 17:15

Dokumentasi Pencatatan Saham NAYZ (Sumber Website IDX)
Dokumentasi Pencatatan Saham NAYZ (Sumber Website IDX)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Setelah sempat bergerak stagnan di kisaran level Rp50, PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) bersiap melakukan transformasi bisnis secara signifikan.

Pengendali baru perseroan, Saiko Consultancy Pte. Ltd., akan melakukan injeksi aset melalui pengalihan saham Bangkok Tellink ke NAYZ. Langkah strategis ini akan menjadikan NAYZ sebagai pemegang saham mayoritas pada perusahaan teknologi dan telekomunikasi tersebut.

NAYZ akan mengambil alih 75% saham Bangkok Tellink dari Saiko Consultancy Pte. Ltd. yang saat ini memegang 29,41% saham NAYZ.

NAYZ selaku pembeli dan Saiko selaku penjual telah sepakat mengalihkan 5.692.500 saham Bangkok Tellink melalui Perjanjian Pengalihan Saham Bersyarat pada Jumat (2/10/2026).

Nilai transaksi (Transaction Value) untuk 75% saham Bangkok Tellink mencapai US$125 juta atau sekitar Rp2,2 triliun, yang mencerminkan total valuasi perusahaan sebesar USD166,7 juta. Meski demikian, angka tersebut masih berpotensi menyesuaikan hasil penilaian dari Penilai Independen.

"Apabila nilai berdasarkan penilaian independen (Reference Value) lebih rendah dari Transaction Value, maka Reference Value akan digunakan sebagai dasar penyelesaian transaksi. Sebaliknya, jika Reference Value lebih tinggi, maka Transaction Value sebesar US$125 juta yang akan digunakan," ujar Direktur NAYZ, Nusttanakit Sasiarnon, melalui keterbukaan informasi, Senin (5/10/2026).

Nilai kesepakatan ini tergolong fantastis mengingat posisi ekuitas NAYZ per Juni 2026 hanya sebesar Rp63 miliar dengan kas dan setara kas senilai Rp6 miliar. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar (market cap) NAYZ saat ini masih di bawah Rp200 miliar.

Mengenai skema pembayaran, Sasiarnon menjelaskan bahwa 20% dari nilai transaksi akan dibayarkan secara tunai oleh NAYZ. Sedangkan 80% sisanya dialihkan sebagai setoran modal berupa inbreng melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Seluruh rangkaian transaksi ini akan mematuhi regulasi pasar modal yang berlaku, mulai dari pemenuhan persyaratan pendahuluan hingga persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Fokus Bisnis Baru dan Tren Saham


Dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen NAYZ mengungkapkan bahwa Bangkok Tellink akan menjadi fokus utama bisnis di bawah kendali Saiko Consultancy. Bangkok Tellink bergerak di bidang teknologi dengan model pendapatan berulang (recurring income) di berbagai sektor.

Saiko bersama Bangkok Tellink memiliki rekam jejak operasional di bidang telekomunikasi, layanan MVNO, platform Internet of Things (IoT), sistem pembayaran digital, smart kiosk and vending solutions, hingga infrastruktur berbasis cloud. CEO & Founder Bangkok Tellink, Nusttanakit Sasiarnon, saat ini juga telah menjabat sebagai Direktur NAYZ.