Pergerakan itu memberikan ruang bagi aset negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bernapas. Sebab, indeks dolar AS juga ikut terpangkas 0,21% ke 101,87, setelah berada di level 102,09 kemarin.
Penurunan US Treasury, meskipun tipis saja, mengurangi tekanan terhadap selisih imbal hasil (yield spread) antara obligasi AS dan obligasi negara berkembang.
Turunnya yield di pasar US Treasury diikuti obligasi di pasar domestik. Aksi beli obligasi masih berlanjut sore ini ditandai adanya penurunan yield pada sebagian besar tenor, terutama tenor pendek.
Di tenor 1 tahun, misalnya, yield terpangkas cukup dalam 7 bps ke 6,7%, sedangkan tenor 5 tahun turun 2,5 bps jadi 7,03%. Namun, pada tenor acuan 10 tahun, yield masih naik terbatas 0,3 bps jadi 7,16%.
Meskipun yield US Treasury terpangkas dan berupaya dinormalisasi, namun level 5,24% masih tergolong tinggi. Dengan begitu, penurunan yield itu belum bisa dibaca sebagai berakhirnya tekanan di pasar obligasi global.
Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah jadi cukup terbatas. Apalagi harga minyak masih berada di sekitar US$100/barel, dan berpotensi memperbesar risiko inflasi.
Dari domestik, inflasi diperkirakan masih akan meninggi di bulan Oktober ini, setelah September mencatat kenaikan jadi 3,28%. Meskipun lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 3,3%, kenaikan ini tak bisa diabaikan. Sebab, sumbernya berasal dari kenaikan harga pangan.
Inflasi yang hanya 0,22 poin presentasi di bawah batas atas sasaran Bank Indonesia (BI) yang sebesar 1,5%-3,5% membuat ruang untuk menghadapi tambahan guncangan harga jadi makin terbatas.
"Bagi Bank Indonesia, inflasi umum yang lebih tinggi mempersempit fleksibilitas kebijakan meskipun inflasi inti melandai," kata Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas.
Ia menambahkan, ruang untuk pelonggaran kebijakan tampak terbatas, sementara mempertahankan kondisi keuangan yang ketat dapat membebani permintaan kredit dan investasi yang saat ini masih lemah.
"Kami tetap berhati-hati terhadap prospek inflasi hingga akhir 2026. Gangguan lebih lanjut pada pasokan pangan, kenaikan harga energi, dampak El Nino, atau pass-through nilai tukar dapat mendorong inflasi umum menembus batas atas sasaran BI," kata Harry.
Bahkan, Harry menyebut jika inflasi tetap berada dalam sasaran, tekanan berkelanjutan terhadap kebutuhan pokok dapat melemahkan konsumsi rumah tangga.
(dsp)





























