Logo Bloomberg Technoz

Arah Rupiah Hari Ini Kala Harga Minyak Turun & Yield UST Tinggi

Tim Riset Bloomberg Technoz
01 October 2026 07:40

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah hari ini (1/10/2026) diperkirakan mulai terkonsolidasi di pasar spot. Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sudah mengirim sinyal defensif. Meski terbatas, rupiah menguat 0,06% dan dapat mempertahankan posisinya di level Rp17.924/US$ pagi ini 06.40 WIB. 

Penguatan itu ditopang oleh harga minyak mentah brent yang kembali melandai ke US$98/barel, setelah terpangkas 0,92%. Namun, indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama masih bertahan di 101,45, tetap menahan laju penguatan rupiah. 

Sementara itu, data inflasi AS, Price Consumer Expenditure (PCE), lebih rendah dari perkiraan pasar, dengan PCE tahunan 3% (survei 3,3%), dan PCE bulanan 0,2% (survei 0,3%).


PCE yang lebih rendah dari perkiraan tersebut membuat pelaku pasar memangkas sebagian ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober. 

Pelaku pasar memang masih memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebesar 36%, namun angka ini turun dari 50% sebelum data PCE rilis tadi malam waktu Indonesia.