Logo Bloomberg Technoz

Kurva Obligasi AS Makin Datar, Ekonom Soroti Risiko ke Rupiah

Redaksi
28 September 2026 10:00

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar obligasi AS menunjukkan kurva imbal hasil semakin datar, dengan selisih yield Treasury tenor 10 tahun dan 2 tahun menyempit hingga 17 basis poin, level terendah sejak awal 2025. Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya inverted yield curve sekaligus kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa hal ini memiliki sejumlah dampak bagi perekonomian Indonesia, terutama melalui penguatan dolar dan kenaikan biaya pendanaan.

“Ketika Treasury menawarkan imbal hasil yang tinggi, investor global cenderung mengurangi aset berisiko dan memindahkan dana ke dolar. Tekanan ini dapat melemahkan rupiah, mendorong kenaikan yield SBN, serta meningkatkan biaya pendanaan pemerintah dan perbankan,” kata Yusuf kepada Bloomberg Technoz, Senin (28/9/2026).


Bahkan menurutnya, apabila hal ini berlangsung lebih lama, maka bunga kredit dapat ikut mengalami kenaikan sehingga konsumsi, investasi, dan ekspansi usaha melambat.

Sementara, Potensi capital outflow tetap ada, terutama dari pasar saham dan instrumen keuangan jangka pendek. Namun, Yusuf menilai bahwa Indonesia lebih kuat dibandingkan satu dekade lalu karena pasar SBN semakin ditopang investor domestik.